Pergeseran tren pemakaian batik semakin terlihat di ruang publik. Jika dulu identik dengan acara formal, kini batik mulai banyak dikenakan dalam momen santai dan informal, termasuk festival musik. Fenomena itu tampak dalam gelaran Prambanan Jazz 2026 yang digelar di pelataran Candi Prambanan. Dari sekitar 85 ribu pengunjung yang hadir, batik menjadi salah satu busana yang mendominasi.
Beberapa pengunjung mengaku sengaja memilih batik karena sesuai dengan suasana festival sekaligus menjadi cara mengekspresikan diri. Sekar, penonton asal Salatiga, mengatakan ia sengaja mengenakan batik saat menghadiri Prambanan Jazz. Menurutnya, batik kini hadir dengan beragam motif dan warna yang lebih menarik sehingga tidak lagi dianggap kuno oleh generasi muda.
"Sekarang sih aku ngerasa kalau kita itu butuh tempat (seperti konser musik) untuk mengekspresikan diri kita dengan batik ya. Apalagi sekarang kan batik banyak tuh yang colorful, yang bagus. Jadi, Gen Z juga nggak akan ngerasa ketinggalan zaman pakai batik," kata Sekar saat ditemui di lokasi, Minggu (5/7).
Hal serupa dirasakan Audy, yang datang dari Bekasi untuk menyaksikan penampilan penyanyi favoritnya, NIKI. Ia sengaja mengenakan busana bernuansa batik karena menilai kawasan Prambanan identik dengan budaya. "Aku tuh kerasa kalau misalnya ke Prambanan harus pakai sesuatu yang etnik," ujarnya menjelaskan konsep pakaian yang ia kenakan.
Fenomena itu turut menjadi perhatian Margaria Batik, brand batik asal Yogyakarta yang telah berdiri hampir empat dekade. Dirintis oleh Heri Zudianto dan Dyah di kawasan Malioboro, Margaria Batik kini memasuki generasi ketiga dan terus berupaya mengikuti perkembangan tren agar batik tetap relevan bagi berbagai kalangan.
Brand Strategist Margaria Group, Dina Rizki Inten Yanuari, mengatakan Prambanan Jazz menjadi salah satu ruang yang dipilih Margaria Batik untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat. "Sejak beberapa tahun terakhir kami melihat bahwasanya Prambanan Jazz ini bukan hanya festival musik biasa, tetapi sebagai ruang untuk bertemunya masyarakat yang mengapresiasi budaya dan seni," ujarnya.
Melalui keikutsertaannya di Prambanan Jazz, Margaria Batik memperkenalkan batik sebagai busana yang dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, tidak hanya pada acara formal. Sebagai bagian dari kehadirannya, Margaria Batik menghadirkan tiket eksklusif bernama VIP Jazz Man Margaria yang hanya dijual melalui situs resmi mereka. Pembeli tiket tersebut mendapatkan kain sebagai bagian dari paket yang, menurut Dina, dapat dimanfaatkan setelah festival selesai.
"Nah, benefit-nya akan mendapatkan gift berupa kain bahan. Itu bisa dimanfaatkan setelah festival musik berakhir," kata Dina.
Menurut Dina, tren pemakaian batik di berbagai ruang publik sejalan dengan upaya Margaria Batik memperkenalkan batik sebagai busana yang lebih fleksibel dan dapat dikenakan dalam berbagai aktivitas. "Harapannya semakin bertambahnya usia kami, kami bisa semakin memperkenalkan batik ke masyarakat yang lebih luas, kami bisa semakin membawa batik itu relevan dengan gaya hidup masyarakat masa kini," pungkasnya.