Nilai tukar rupiah kembali terperosok pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 114 poin atau 0,63 persen ke level Rp18.128 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipengaruhi sentimen ganda, baik dari eksternal maupun domestik. Dari luar negeri, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah operasi militer pada Rabu malam. Serangan itu disebut bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas kapal, hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah berakhir.
AS menyatakan serangan terbarunya merupakan respons atas serangan hari Selasa terhadap tiga kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Serangan AS mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran dan menyebabkan beberapa daerah tanpa aliran listrik. Iran pun membalas dengan menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait. Akibatnya, beberapa perusahaan asuransi perang menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat Federal Reserve bulan Juni menunjukkan para pembuat kebijakan terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, risalah itu juga mengungkapkan meningkatnya kekhawatiran di kalangan bankir sentral terhadap inflasi, yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun. Inflasi AS sendiri telah meningkat tajam sejak perang AS-Iran dimulai pada akhir Februari, dengan pertumbuhan harga yang masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk memenuhi target tersebut dalam pidato terbarunya.
Dari dalam negeri, pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang lebih cepat pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar. APBN 2026 dirancang sebagai instrumen utama menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung delapan agenda prioritas nasional, seperti penguatan ketahanan pangan dan energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pembangunan desa, pemberdayaan koperasi dan UMKM, penguatan sistem pertahanan, serta percepatan investasi dan perdagangan global.
Sementara itu, sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada Juni, mencapai titik terlemah sejak September lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang menunjukkan penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 berada di level 117,8, turun dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 120,9 dan jauh di bawah posisi awal tahun di 127,0. Meski demikian, BI menegaskan bahwa kondisi psikologis ekonomi masyarakat masih berada di zona aman karena IKK nasional masih di atas ambang batas 100.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan berfluktuasi dan cenderung melemah pada perdagangan besok, dengan rentang pergerakan Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Minta Tanya BI
IHSG Ditutup Hijau di Sesi I, Rupiah Melemah ke Rp18.101
IHSG Dibuka Melemah, Rupiah Tertekan ke Rp 18.066 per Dolar AS
Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.981 per Dolar AS