Harga Komoditas Tertekan The Fed dan Damai AS-Iran, Fokus Beralih ke Kuota Tambang

- Rabu, 08 Juli 2026 | 07:15 WIB
Harga Komoditas Tertekan The Fed dan Damai AS-Iran, Fokus Beralih ke Kuota Tambang

Harga berbagai komoditas melemah sepanjang Juni 2026. Kombinasi sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed), penguatan dolar AS, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga potensi kenaikan kuota produksi nikel di Indonesia menjadi pemicu utama.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset yang terbit pada 3 Juli 2026 menyebut hampir seluruh komoditas mengalami koreksi bulanan sekitar 1-19 persen. Tekanan itu dipicu oleh The Fed yang masih cenderung hawkish setelah data pasar tenaga kerja dan inflasi AS tetap solid. Indeks dolar AS (DXY) pun kembali menembus level 100, menekan harga komoditas global.

Di saat yang sama, tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran meredakan premi risiko geopolitik. Dampaknya, harga minyak Brent turun ke kisaran USD70 per barel, diikuti pelemahan harga batu bara Newcastle dan ICI sejak akhir Juni. Harga aluminium, yang sebelumnya diuntungkan konflik, juga turun sekitar 19 persen secara bulanan.

Meski demikian, Indo Premier menilai The Fed masih berpotensi mempertahankan kebijakan hawkish dalam jangka pendek. Kenaikan biaya energi sebelumnya diperkirakan masih tercermin pada data inflasi AS beberapa bulan ke depan, mengingat komponen energi menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi CPI.

Pelemahan harga aluminium berpotensi membuat rata-rata harga jual (ASP) PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada 2026 berada di kisaran bawah proyeksi, sekitar USD3.000 per ton, jauh di bawah puncaknya yang sempat mencapai USD3.700 per ton. Di sisi lain, biaya sulfur untuk industri HPAL diperkirakan masih bertahan tinggi. Berbeda dengan minyak dan aluminium, harga sulfur bergerak lebih lambat karena tidak memiliki pasar finansial yang aktif. Berdasarkan diskusi Indo Premier dengan pelaku industri HPAL, hanya sebagian kecil transaksi terjadi pada harga puncak USD1.200 per ton. Rata-rata biaya sulfur pada kuartal II-2026 diperkirakan berkisar USD900-1.000 per ton.

Fokus pada Kuota RKAB

Selain faktor global, perhatian pasar kini tertuju pada kebijakan pemerintah terkait kenaikan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan. Indo Premier menilai isu lain seperti skema gross split maupun kenaikan tarif royalti sebagian besar telah tercermin pada harga saham. Fokus investor beralih pada keputusan Kementerian ESDM mengenai tambahan kuota produksi.

Sejumlah perusahaan, termasuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO), mengajukan tambahan kuota produksi bijih nikel seiring proyek HPAL Pomalaa yang diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal III-2026. Sementara itu, ADMR, PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga mengusulkan tambahan kuota untuk komoditas batu bara.

“Sejumlah perusahaan tambang lain juga diperkirakan mengusulkan tambahan kuota RKAB. Namun, pengaruhnya dinilai terbatas karena kuota yang ada saat ini telah mengakomodasi target produksi dan rencana penambangan masing-masing perusahaan,” kata kedua analis tersebut.

Berdasarkan kanal informasi yang dihimpun Indo Premier, Kementerian ESDM diperkirakan hanya menaikkan kuota RKAB bijih nikel menjadi sekitar 320-330 juta wet metric ton (wmt), lebih rendah dari rumor pasar yang menyebut angka 360 juta wmt. Jika skenario tersebut terealisasi, keseimbangan pasokan dan permintaan bijih nikel diperkirakan membaik, namun berpotensi menekan harga bijih nikel domestik maupun harga nikel di London Metal Exchange (LME).

Terlepas dari berbagai tantangan, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam dan energi. Menurut mereka, berbagai ketidakpastian regulasi sudah tercermin pada valuasi saham saat ini. Selain itu, meski inflasi AS diperkirakan masih relatif tinggi dalam beberapa bulan ke depan, kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Dalam jangka menengah hingga panjang, prospek harga komoditas dinilai tetap kuat.

Untuk pilihan saham, Indo Premier tetap menjagokan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan INCO. MDKA dipilih karena prospek pemulihan profitabilitas, sementara INCO dinilai menawarkan pertumbuhan laba per saham (EPS) yang menarik seiring ekspansi bisnisnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags