Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin pekan depan, meskipun ruang kenaikannya dinilai lebih terbatas. Proyeksi ini muncul setelah indeks melonjak 2,28 persen ke level 5.875 pada penutupan perdagangan Jumat lalu.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan potensi penguatan tersebut didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang membaik. Ia memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 5.840-5.950 pada perdagangan Senin, dengan level 5.900 menjadi area psikologis yang akan diuji.
"Selama indeks mampu bertahan di atas area support 5.830-5.850, peluang melanjutkan penguatan masih terbuka, didukung ekspektasi suku bunga global yang lebih akomodatif, stabilnya harga minyak dunia, penguatan mata uang regional, serta optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Asia," kata Hendra.
Dari eksternal, pasar merespons positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi. Hal ini memunculkan harapan bahwa bank sentral AS tidak akan lagi agresif menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.
Optimisme tersebut diperkuat oleh data PMI di sejumlah negara Asia yang masih berada di zona ekspansi, mencerminkan aktivitas ekonomi kawasan tetap solid. Bursa Asia pun kompak menguat, sementara rupiah turut terapresiasi ke kisaran Rp17.962 per dolar AS, menambah sentimen positif bagi pasar domestik.
Dari dalam negeri, penguatan hampir terjadi di seluruh sektor dengan sektor perindustrian menjadi motor utama. Aksi bargain hunting pada sejumlah saham yang sebelumnya telah mengalami koreksi cukup dalam turut mendorong kenaikan.
Meski demikian, kenaikan IHSG masih perlu disikapi secara selektif. Hendra mengingatkan bahwa reli saat ini belum didukung oleh arus dana asing yang kuat. Sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp88 triliun. Bahkan pada perdagangan Jumat, asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp16 miliar.
"Artinya, reli yang terjadi saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik dan membaiknya sentimen global dibandingkan adanya arus masuk dana asing. Selama investor asing belum berbalik melakukan akumulasi secara konsisten, potensi volatilitas pasar masih tetap tinggi sehingga kenaikan IHSG diperkirakan berlangsung secara bertahap," jelas Hendra.
Setelah reli tajam pada Jumat, tidak tertutup kemungkinan terjadi aksi ambil untung jangka pendek. Pergerakan indeks diperkirakan tetap fluktuatif. Di tengah kondisi tersebut, Hendra menyarankan strategi selective buying pada saham-saham yang masih memiliki momentum teknikal positif.
Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain BRIS dengan rekomendasi speculative buy dan target harga 1.945, seiring mulai munculnya sinyal akumulasi. MDKA juga menarik untuk speculative buy dengan target 2.900 didukung prospek sektor logam yang mulai membaik. Sementara itu, MBMA dapat dipertimbangkan untuk trading buy dengan target 600 karena masih berpotensi memperoleh sentimen positif dari industri nikel dan kendaraan listrik. Adapun SCMA menarik untuk masuk radar speculative buy dengan target 250 setelah menunjukkan indikasi rebound dari fase konsolidasinya.
Fokus investor juga masih terarah pada sektor perbankan, pertambangan logam, industri, dan media yang berpotensi melanjutkan momentum penguatan. Namun, disiplin manajemen risiko tetap diperlukan mengingat arus dana asing masih belum sepenuhnya kembali ke pasar saham Indonesia.
Artikel Terkait
BEI Revisi Aturan Papan Pemantauan Khusus, Pengamat: Langkah Perkuat Transparansi Pasar
IHSG Menguat 2,28 Persen, MNC Sekuritas Rekomendasikan Empat Saham
IHSG Melemah 0,35 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Jadi Rp10.287 Triliun
IHSG Melemah, Sepuluh Saham Ini Catatkan Penurunan Terbesar