Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau langsung proses tanam padi bersama petani di Desa Waninggap Kai, Kecamatan Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Sabtu (4/7). Dalam kunjungan itu, ia menegaskan bahwa seluruh program cetak sawah dan optimalisasi lahan yang berjalan di Papua Selatan sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat, khususnya putra-putri asli Papua.
“Program ini milik rakyat, milik masyarakat putra daerah Papua. Jangan ada yang mengatasnamakan masyarakat mengatakan tidak setuju, karena faktanya setelah program berjalan pendapatan masyarakat naik hingga 300 persen. Bahkan sekarang masyarakat justru meminta tambahan cetak sawah,” ujar Amran di Kecamatan Semangga, Kabupaten Merauke.
Amran menekankan program tersebut tidak mengambil hak masyarakat, melainkan dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat dan petani Papua. Ia menyebut Papua kini menjadi salah satu kawasan prioritas pengembangan pangan nasional. Hingga 2026, pemerintah telah mengembangkan 83.030 hektare cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan di seluruh Tanah Papua.
Dari jumlah tersebut, Papua Selatan menjadi pusat pengembangan terbesar dengan 48.934 hektare cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan, atau hampir 100 ribu hektare kawasan produksi pangan. Sementara pengembangan di wilayah lainnya meliputi Papua sebanyak 24.248 hektare, Papua Barat Daya 4.675 hektare, Papua Barat 3.373 hektare, dan Papua Pegunungan 2.000 hektare.
Besarnya antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya permintaan pembukaan sawah baru di berbagai wilayah Papua. Amran memastikan pemerintah akan terus mengembangkan kawasan pangan di Papua sesuai kebutuhan masyarakat. Bahkan, saat menerima laporan adanya kekurangan pasokan solar untuk mendukung operasional pertanian, Amran langsung berkoordinasi dengan Pertamina agar kebutuhan petani segera dipenuhi.
“Begitu mendapat laporan kekurangan solar, kami langsung berkoordinasi dengan Pertamina dan kuotanya siap ditambah. Yang penting kebutuhan petani terpenuhi agar aktivitas di lapangan tidak terganggu,” ungkap Amran.
Program pengembangan pertanian di Merauke juga mulai menunjukkan hasil. Indeks pertanaman meningkat dari 1,05 menjadi 1,82–2,00, sementara produktivitas padi juga turut melonjak. Produksi beras, luas panen, dan pendapatan petani pun terus mengalami peningkatan.
Amran menuturkan pemerintah tidak hanya membuka sawah baru, tetapi juga membangun ekosistem pertanian modern melalui penyediaan alat mesin pertanian, benih unggul, irigasi, brigade pangan, hingga pendampingan intensif kepada petani. “Sekarang petani Merauke sudah mampu mengoperasikan alat pertanian modern. Teknologi yang digunakan negara-negara maju kini juga digunakan di Papua untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” kata Amran.
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, mengatakan Merauke menjadi tulang punggung pengembangan pangan di Tanah Papua. Dari total sekitar 84 ribu hektare program cetak sawah di Tanah Papua, lebih dari 48 ribu hektare berada di Kabupaten Merauke. Begitu pula program optimalisasi lahan, di mana sekitar 53 ribu hektare dari total 54 ribu hektare berada di Merauke.
“Lebih dari separuh program cetak sawah di Tanah Papua dan hampir seluruh program optimalisasi lahan berada di Merauke. Ini menunjukkan Merauke menjadi pusat pengembangan pangan di Tanah Papua,” ujar Apolo.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Papua Selatan siap mendukung seluruh Proyek Strategis Nasional, khususnya di sektor pangan, sebagai bagian dari pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat stabilitas ekonomi dan mewujudkan ketahanan pangan nasional. “Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian karena program ini memberi manfaat besar bagi ekonomi masyarakat. Kami siap mendukung penuh agar Papua Selatan menjadi lumbung pangan, bahkan ke depan mampu menjadi pengekspor beras,” tutur Apolo.
Artikel Terkait
Mentan Amran Tegaskan Program Cetak Sawah di Papua Sepenuhnya untuk Rakyat
Mentan Ajak Mahasiswa Papua Bangun Pertanian Berbasis Potensi Lokal
Mentan Amran Minta Calon Pemimpin Nasional Jaga Keberlanjutan Program Strategis
Belarus Buka Peluang Impor Kakao dan CPO dari Indonesia, Kerja Sama Teknologi Pertanian Juga Ditingkatkan