Pemerintah Belarus menyatakan kebutuhan kakao mencapai sekitar 120.000 ton per tahun dan membuka peluang impor minyak sawit (CPO) dari Indonesia. Hal itu terungkap dalam pertemuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Pertanian dan Pangan Belarus Yuri Gorglov di Jakarta, Selasa (30/6/2026). Pertemuan yang juga dihadiri Putra Presiden Belarus Dmitry Lukashenko itu menghasilkan sejumlah kesepakatan, termasuk penguatan kerja sama teknologi pertanian, modernisasi irigasi, dan investasi.
Mentan Amran mendorong peningkatan ekspor komoditas unggulan Indonesia ke Belarus, terutama CPO, kakao, kelapa, dan teh. Menurutnya, Belarus merupakan mitra potensial sekaligus pintu masuk bagi produk pertanian Indonesia ke kawasan Eropa Timur.
“Kami ingin memperluas pasar ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Belarus. Hubungan yang semakin erat antara kedua negara harus memberikan manfaat nyata melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Mentan Amran.
Belarus memiliki industri pengolahan cokelat yang memasok kebutuhan domestik, Eropa Timur, hingga Rusia. Untuk mendukung industri tersebut, negara itu membutuhkan sekitar 120.000 ton kakao per tahun. Peluang itu dinilai besar bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperluas akses pasar kakao nasional.
Selain kakao, Mentan Amran juga mendorong ekspor CPO ke Belarus. Selama ini produk tersebut belum masuk ke pasar Belarus, padahal kebutuhan CPO di negara itu mencapai sekitar 14.000 ton per tahun.
“Kami juga mendorong ekspor CPO ke Belarus. Selama ini produk tersebut belum masuk ke pasar Belarus, padahal mereka telah menyampaikan kebutuhannya sekitar 14 ribu ton. Ini menjadi peluang yang harus segera kita tindak lanjuti agar perdagangan kedua negara semakin meningkat,” kata Mentan Amran.
Di bidang teknologi pertanian, Indonesia dan Belarus sepakat berkolaborasi dalam pengembangan mekanisasi pertanian, modernisasi sistem irigasi, pengelolaan sumber daya air, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian.
“Belarus memiliki pengalaman dan teknologi yang dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Sementara Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian. Kolaborasi ini harus mampu mempercepat modernisasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan kedua negara,” ujar Mentan Amran.
Pada sektor peternakan, kedua negara juga membahas peluang peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Mentan Amran menilai kerja sama tersebut diharapkan mampu menghadirkan produk berkualitas dengan harga yang semakin kompetitif bagi masyarakat Indonesia.
“Kami ingin setiap kerja sama yang dibangun memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik melalui peningkatan kualitas produk, harga yang lebih kompetitif, maupun terbukanya peluang ekonomi baru bagi kedua negara,” katanya.
Mentan Amran menegaskan seluruh hasil pembahasan harus segera ditindaklanjuti agar kerja sama yang telah disepakati dapat segera direalisasikan.
“Yang terpenting adalah implementasi. Semua hasil pertemuan ini harus segera ditindaklanjuti agar manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua negara, khususnya para pelaku usaha dan petani,” tegas Mentan Amran.
Artikel Terkait
Indonesia Buka Peluang Ekspor Kakao dan CPO ke Belarus
Indonesia Klaim Capai Swasembada Beras Tanpa Impor pada Akhir 2025
Prabowo Terima Kunjungan Presiden Belarus Pekan Ini, Bahas Kerja Sama Dagang hingga Teknologi
Survei Litbang Kompas: Kepercayaan Publik terhadap Polri Naik Jadi 82,4%