Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut. Defisit tercatat sebesar USD1,61 miliar, berbalik dari posisi April 2026 yang masih mencatat surplus USD89,1 juta.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut defisit terutama disebabkan tekanan pada sektor migas. "Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar USD3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," ujarnya.
Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus USD2,15 miliar, ditopang komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta besi dan baja. Namun, besarnya defisit di sektor migas tidak tertutup oleh surplus nonmigas, sehingga neraca perdagangan secara keseluruhan berada di zona negatif.
Artikel Terkait
BPS Paparkan Perbedaan Data, Data Statistik, dan Statistik dalam RUU Satu Data Indonesia
Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$1,61 Miliar, Pertama dalam Enam Tahun
BPS Proyeksikan Produksi Beras 2026 Naik Tipis, Harga Premium Melonjak 11,66%
Inflasi Juni 2026: Maluku Utara Tertinggi, Sulawesi Selatan Satu-satunya yang Deflasi