Keputusan membeli mobil kini tidak lagi semata-mata didorong oleh keinginan, melainkan semakin dipengaruhi pertimbangan finansial jangka panjang. Perubahan perilaku konsumen ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri otomotif tanah air, menurut Mazda Indonesia.
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, mengakui situasi pasar otomotif nasional tengah berat. Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini lebih mengedepankan aspek rasional saat membeli komoditas, termasuk mobil. Fenomena ini ia kaitkan dengan lipstick effect, yaitu kecenderungan konsumen untuk membelanjakan uang pada produk yang memberikan kepuasan emosional.
"Konsumen kini menjadi lebih rasional dalam mengambil keputusan. Mereka mempertimbangkan kemampuan membayar cicilan dalam jangka empat hingga lima tahun ke depan," ujar Ricky di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026).
Menurut Ricky, situasi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, ketika mobil masih sering dipandang sebagai aset atau investasi jangka panjang. "Keputusan membeli mobil ini membutuhkan pertimbangan yang lebih matang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya," imbuhnya.
Untuk tetap relevan, Mazda disebut perlu menerapkan pendekatan berbeda dalam memasarkan model-modelnya. Meski demikian, Ricky tetap optimistis terhadap pasar domestik tahun ini. "Untuk semester dua, saya sendiri juga masih melihat situasinya cukup dinamis. Kondisinya memang penuh tantangan, tetapi kami optimistis, apalagi nanti akan ada (pameran) GIIAS dan berbagai program baru yang kami siapkan," terangnya.
Ricky berharap tidak ada gejolak baru dalam enam bulan ke depan yang dapat mempengaruhi pasar otomotif nasional. Pabrikan juga masih akan menyiapkan model baru untuk menggenjot penjualan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan retail selama Januari-Mei 2026 mencapai 1.240 unit, turun 5,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.