Gelombang Panas dan Kekeringan di Eropa Pangkas Pendapatan Rumah Tangga, 5,6 Juta Warga Terancam Miskin

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 07:00 WIB
Gelombang Panas dan Kekeringan di Eropa Pangkas Pendapatan Rumah Tangga, 5,6 Juta Warga Terancam Miskin

Gelombang panas dan kekeringan yang semakin sering melanda Eropa tidak hanya mengganggu sektor pertanian dan rantai pasok, tetapi juga menggerus kondisi keuangan rumah tangga. Dampak perubahan iklim tersebut menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sekaligus meningkatkan risiko kemiskinan di berbagai negara di kawasan itu.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Global Environmental Change menemukan bahwa gelombang panas dan kekeringan sepanjang periode 2004–2022 telah memangkas pendapatan rumah tangga tahunan rata-rata di seluruh Eropa hampir tiga persen dibandingkan dengan kondisi tanpa adanya cuaca ekstrem. Akibatnya, sekitar 5,6 juta warga Eropa kini berada dalam risiko kemiskinan.

Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Dampak terhadap keuangan rumah tangga menjadi besar karena cuaca ekstrem memperlambat aktivitas pekerjaan. Selain itu, risiko kesehatan seperti serangan panas dan penyakit kardiovaskular juga ikut mengintai.

Peneliti mengungkapkan bahwa Madrid menduduki peringkat teratas dengan penurunan pendapatan hampir sepuluh persen akibat produktivitas yang lebih rendah.

“Ada bukti jelas tentang dampak dan efek perubahan iklim pertama yang dirasakan oleh masyarakat umum,” kata penulis utama studi ini, Jessie Ruth Schleypen, ekonom iklim dari Climate Analytics.

Temuan ini menambah bukti mengenai besarnya ongkos yang harus ditanggung. Para ekonom memperkirakan semakin tinggi suhu, semakin tinggi pula biaya makanan, sehingga menekan anggaran rumah tangga.

Gernot Wagner, ekonom iklim di Columbia Business School, mengatakan kemajuan dalam penelitian ekonomi yang dipadukan dengan percepatan perubahan iklim yang pesat kini mempermudah penentuan biaya-biaya tersebut.

“Dampak kumulatif dari waktu ke waktu cukup besar sehingga sudah terlihat dalam statistik ekonomi. Kita sudah lebih miskin karena perubahan iklim,” katanya.

Penelitian ini menggunakan data pendapatan rumah tangga dan kondisi cuaca di seluruh Uni Eropa sepanjang 2004–2022, lalu membandingkannya dengan skenario tanpa gelombang panas dan kekeringan. Hasilnya menunjukkan bahwa dua puluh persen penduduk termiskin diperkirakan mengalami kerugian pendapatan yang lebih besar. Mereka cenderung bekerja di industri yang kurang memberikan perlindungan dari panas, seperti pertanian dan konstruksi.

Cuaca ekstrem ini kadang memaksa pekerja kasar untuk libur, sementara pekerja di kantor berpendingin udara mengalami dampak yang lebih kecil. Menurut Schleypen, keluarga berpenghasilan rendah juga lebih mungkin tinggal di daerah dengan akses air yang terbatas dan ruang hijau yang lebih sedikit untuk mengurangi dampak gelombang panas.

Para peneliti memperingatkan bahwa tanpa kebijakan iklim yang lebih ambisius, Eropa dapat menghadapi kerugian pendapatan dua digit. Jika pemanasan global berhasil dibatasi pada 1,5 derajat Celsius sesuai target Perjanjian Paris, pendapatan rumah tangga diperkirakan tetap turun sekitar 7,4 poin persentase dibandingkan kondisi historis. Namun, suhu diperkirakan akan melampaui ambang batas tersebut. Dengan kebijakan saat ini, pemanasan yang diproyeksikan justru dapat menurunkan pendapatan hingga 27,2 poin persentase.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags