Program pembayaran angsuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan menggunakan sampah berhasil mengumpulkan lebih dari 1.261 kilogram sampah dari 21 klaster perumahan hingga Maret 2026. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, yang menggagas inisiatif tersebut, berencana memperluas jangkauan program ke delapan provinsi dan 15 kota di Indonesia sebagai bagian dari upaya menekan emisi rumah tangga.
Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, menyatakan bahwa program ini menjadi sarana bagi perseroan untuk memperkuat kedekatan dengan masyarakat. Menurutnya, kehadiran BTN tidak hanya dirasakan saat masyarakat membeli rumah, tetapi juga melalui dukungan terhadap kebiasaan baru yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“BTN ingin hadir tidak hanya saat masyarakat membeli rumah, tetapi juga mendukung kebiasaan baru yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” tutur Hermita.
Untuk memperkuat komitmen pengurangan emisi berbasis rumah tangga, BTN menggandeng Bank Sampah Muria Berseri Kudus. Kolaborasi ini merupakan pengembangan dari Program Bayar Angsuranmu dengan Sampahmu, yang mendorong sampah rumah tangga memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menambahkan bahwa sebagai bank yang telah membiayai jutaan hunian di Indonesia, BTN memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat yang dimulai dari rumah. Ia menekankan bahwa pengurangan emisi dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu rumah tangga.
“BTN percaya pengurangan emisi bisa dimulai dari rumah. Melalui kolaborasi dengan komunitas bank sampah lokal, kami ingin masyarakat merasakan bahwa menyetor sampah di BTN bisa lebih cuan sekaligus ikut menjaga lingkungan,” ujar Setiyo.
Sementara itu, Setiyo menjelaskan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga menjadi isu krusial. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rumah tangga berkontribusi sekitar 46,3 persen terhadap produksi sampah nasional, atau setara dengan 34,1 juta ton per tahun. Namun, baru 31,3 persen atau sekitar 10,7 juta ton sampah yang berhasil dikelola.
Melalui kerja sama ini, masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dengan menyetorkan sampah anorganik seperti plastik, kardus, aluminium, besi, dan kaca. Sampah tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai ekonomi yang langsung masuk ke rekening BTN.
Artikel Terkait
Cara Bertransaksi ETF di Pasar Sekunder: Panduan Lengkap dari Buka Rekening hingga Eksekusi Order
Realisasi Gaji ke-13 Tembus Rp24,05 Triliun, Disalurkan ke 5,5 Juta ASN, TNI, Polri, dan Pensiunan
SGER Targetkan Pendapatan Rp10 Triliun pada 2026, Ekspansi ke Komoditas Non-Batu Bara
PT Intra Golflink Resorts Bagikan Dividen Rp10,36 Miliar, Setara 20 Persen Laba 2025