BEI Catat 15 Perusahaan Antre IPO hingga Mei 2026, Didominasi Emiten Aset Besar

- Minggu, 24 Mei 2026 | 08:35 WIB
BEI Catat 15 Perusahaan Antre IPO hingga Mei 2026, Didominasi Emiten Aset Besar

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih ada 15 perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga 22 Mei 2026. Sebagian besar calon emiten yang bersiap melantai di bursa berasal dari kelompok aset berskala besar, menandakan minat perusahaan untuk mencari pendanaan melalui pasar modal masih terjaga di tengah dinamika pasar yang ada.

Berdasarkan data BEI, hingga 22 Mei 2026, baru satu perusahaan yang resmi mencatatkan sahamnya di bursa dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp0,30 triliun. Dari total 15 perusahaan yang tercatat dalam antrean IPO, sebanyak 11 perusahaan atau sekitar 73,3 persen merupakan kategori aset skala besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar. Sementara itu, empat perusahaan lainnya masuk dalam kategori aset menengah dengan nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Hingga saat ini, belum ada perusahaan dari kategori aset kecil yang nilainya di bawah Rp50 miliar.

Dilihat dari sektoral, antrean IPO masih didominasi oleh sektor Consumer Cyclicals, Consumer Non-Cyclicals, dan Healthcare, yang masing-masing menyumbang tiga perusahaan. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor Infrastructures, dua perusahaan dari sektor Technology, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor Energy dan Financials. Di sisi lain, belum ada calon emiten yang berasal dari sektor Basic Materials, Industrials, Properties & Real Estate, serta Transportation & Logistic.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan bahwa kondisi antrean pencatatan saham ini menunjukkan pasar modal Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar. Minat dari berbagai sektor industri pun dinilai masih tinggi.

“Hingga saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Sebagai informasi, terdapat 11 perusahaan aset skala besar, empat perusahaan aset menengah, dan tidak terdapat perusahaan aset skala kecil,” ujar Nyoman dalam keterangan resminya pada Minggu, 24 Mei 2026.

Aktivitas penggalangan dana di pasar modal tidak hanya terbatas pada saham. Pada instrumen efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), hingga saat ini telah diterbitkan 62 emisi dari 40 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp68,10 triliun. Sementara itu, masih terdapat 47 emisi dari 33 penerbit yang berada dalam antrean penerbitan. Sektor Financials menjadi penyumbang terbesar dalam antrean EBUS dengan 12 perusahaan, disusul sektor Infrastructures sebanyak tujuh perusahaan dan sektor Energy sebanyak enam perusahaan. Selanjutnya, terdapat dua perusahaan dari sektor Basic Materials, dua dari Consumer Non-Cyclicals, dua dari Industrials, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor Healthcare dan Technology.

Dari sisi aksi korporasi rights issue, per 22 Mei 2026, telah tercatat empat perusahaan yang menerbitkan rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. Saat ini, masih ada satu perusahaan yang mengantre untuk melakukan rights issue, yang berasal dari sektor Properties & Real Estate.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar