PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) membidik pendapatan usaha sebesar 542,8 juta dolar AS sepanjang tahun 2026 ini, dengan target laba bersih minimal 35,1 juta dolar AS hingga akhir tahun. Target tersebut ditetapkan di tengah optimisme perusahaan terhadap pertumbuhan bisnis perawatan pesawat dan ekspansi ke sektor pertahanan.
Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi, menyatakan bahwa capaian kinerja tahun ini akan ditopang oleh bisnis utama perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) serta perluasan usaha di sektor pertahanan. Target ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, di mana GMFI mencatatkan pendapatan usaha sebesar 491,9 juta dolar AS dengan laba bersih 33,9 juta dolar AS sepanjang 2025.
"Kinerja di 2026 ini akan ditopang oleh bisnis maintenance, repair and overhaul (MRO), serta upaya ekspansi Perseroan di sektor pertahanan," ujar Andi dalam keterangan resminya, Jumat (22/5/2026).
Untuk memastikan tren kinerja yang berkelanjutan, manajemen berkomitmen memperkuat fundamental operasional sekaligus memperluas peluang bisnis di industri aviasi dan sektor pendukung lainnya. Dengan kapabilitas yang semakin kuat dan adaptif, GMFI diyakini mampu mengembangkan bisnis melalui sejumlah peluang baru guna memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional maupun global.
Di sektor perawatan pesawat komersial, GMFI berhasil mempertahankan sejumlah pelanggan utama seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific. Selain itu, perusahaan juga menambah pelanggan baru, antara lain One Air, Air Swift, dan Texel Air. Sinergi dengan induk usaha, Garuda Indonesia Group, juga diperkuat melalui reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia sepanjang 2025.
Sementara itu, bisnis di sektor pertahanan menunjukkan perkembangan signifikan. GMFI telah menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat serta dua pesawat VIP Boeing 737-800 sepanjang 2024 lalu. Perusahaan juga memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation dalam implementasi program Imbal Dagang Konten Lokal dan Offset (IDKLO) pesawat tempur Rafale.
"GMFI turut memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerjasama strategis dengan Dassault Aviation dalam implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) pesawat tempur Rafale," ujar Andi.
Di sisi lain, perusahaan telah menemukan sumber pertumbuhan bisnis baru melalui lini non-commercial aircraft yang mencakup Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services. Klaim itu didasarkan pada kemampuan lini bisnis tersebut yang mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 59,9 persen pada 2025 lalu, menjadi 36,7 juta dolar AS hingga akhir tahun.
Untuk mendukung perluasan pasar, GMFI juga meningkatkan kapasitas operasional melalui pembangunan hanggar door di Hanggar 1 dan pengembangan Kertajati Aerospace Park bersama Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB). Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi perusahaan di industri perawatan pesawat nasional dan global.
Artikel Terkait
Menkeu Yakin IHSG Bisa Kembali ke Level 8.000 Meski Sempat Terjun Bebas ke Bawah 6.000
Saham Chandra Asri Anjlok Enam Hari Beruntun, Tertekan Rencana Keluar dari Indeks MSCI
Harga Tembaga Bergerak Terbatas di Tengah Ketidakpastian Perundingan Damai AS-Iran
Teras BRI Babelan Dipadati Wali Murid Cek Pencairan Dana PIP