Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Jumat (22/5/2026), memperpanjang tren pelemahan menjadi enam hari beruntun di tengah sentimen negatif dari rencana keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI dan meningkatnya volatilitas pada saham-saham konglomerasi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 14.11 WIB, harga saham emiten petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu itu anjlok 12,11 persen ke level Rp1.995 per saham. Level tersebut menjadi posisi terendah sejak sekitar September 2023. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp495,7 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 236,2 juta saham.
Dalam lima sesi terakhir, saham TPIA berulang kali menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 15 persen. Secara mingguan, saham ini sudah merosot 53,49 persen dan ambruk 68,25 persen dalam sebulan. Padahal, saham tersebut sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di Rp11.200 per saham pada 7 Agustus 2024.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap TPIA dipicu potensi keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI. Perubahan data kepemilikan saham yang dibuka oleh BEI membuat kapitalisasi pasar free float perseroan tidak lagi memenuhi ambang batas yang disyaratkan indeks global tersebut.
“TPIA akan keluar dari indeks MSCI karena jumlah shareholders di atas 1 persen yang dibuka oleh BEI membuat market cap free float tidak memenuhi threshold,” ujar Michael, Kamis (21/5/2026).
Dia memperkirakan keluarnya TPIA dari indeks MSCI berpotensi memicu arus dana keluar sekitar Rp2 triliun dari investor pasif global. Menurut Michael, tekanan jual terhadap saham TPIA dan saham-saham Grup Barito yang berkaitan dengan MSCI diperkirakan masih berlanjut hingga periode penyesuaian indeks MSCI berikutnya pada Juni 2026.
Di tengah tekanan tersebut, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) buka suara terkait ramainya spekulasi di media sosial mengenai dugaan margin call atas saham TPIA. Isu tersebut ramai diperbincangkan di platform X maupun Instagram setelah sejumlah akun mengaitkan pelemahan saham TPIA dengan potensi tekanan pada fasilitas pembiayaan berbasis jaminan saham.
Sebuah akun edukasi pasar modal di Instagram menarasikan bahwa pelemahan beruntun saham TPIA yang kerap menyentuh ARB 15 persen memunculkan dugaan margin call pada Grup Barito. Bahkan, sebuah unggahan menyebut saham TPIA dijadikan jaminan oleh BRPT dan Prajogo Pangestu kepada sejumlah bank, sekaligus memperkirakan level harga yang dinilai dapat memicu margin call di masing-masing kreditur.
Merespons informasi yang beredar, Corporate Communication Barito Pacific menegaskan seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham perseroan dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur.
“Seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham oleh Barito Pacific dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur. Penjaminan saham juga mencakup mekanisme dalam memitigasi terjadinya volatilitas pasar,” tulis manajemen dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Perseroan menambahkan, mekanisme penjaminan saham telah dirancang untuk memitigasi volatilitas pasar. Selain itu, BRPT mengaku terus menjaga rasio margin dan posisi likuiditas secara disiplin sesuai prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. Di tengah gejolak harga saham, manajemen menegaskan kondisi operasional dan fundamental bisnis Barito Pacific maupun anak usahanya tetap solid dan resilien.
Sementara itu, tekanan terhadap saham-saham Grup Barito terjadi seiring kombinasi sentimen negatif. Mulai dari rebalancing indeks global MSCI, pengumuman FTSE Russell terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, hingga meningkatnya aksi jual asing terhadap saham-saham konglomerasi.
Di sisi lain, TPIA sebenarnya baru saja memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar USD30 juta atau setara Rp6,07 per saham berdasarkan hasil RUPST pada 13 Mei 2026. Perseroan sebelumnya membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar USD1,09 miliar pada 2025, dengan saldo laba ditahan USD1,71 miliar dan total ekuitas mencapai USD4,66 miliar. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 25 Mei 2026, sementara pembayaran dividen akan dilakukan pada 17 Juni 2026.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 3,14 Persen, Saham Bank dan Konglomerasi Dorong Rebound
Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Buyback Terkoreksi Rp40.000 per Gram