IHSG Anjlok 3,08 Persen ke Level Terendah Sejak April 2025, Rupiah Tembus Rp17.728 per Dolar AS

- Selasa, 19 Mei 2026 | 12:40 WIB
IHSG Anjlok 3,08 Persen ke Level Terendah Sejak April 2025, Rupiah Tembus Rp17.728 per Dolar AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan jual yang signifikan pada Selasa (19/5/2026), merosot lebih dari tiga persen dan mencatatkan level terendah dalam lebih dari setahun terakhir. Pelemahan ini terjadi di tengah derasnya arus modal asing yang keluar akibat penyesuaian indeks global MSCI dan FTSE, serta nilai tukar rupiah yang terus merosot ke titik terendah sepanjang masa.

Hingga penutupan sesi pertama, indeks acuan pasar modal Indonesia itu terkoreksi 3,08 persen ke posisi 6.396,27. Angka tersebut menjadi level terendah sejak April 2025 sekaligus memperpanjang catatan negatif menjadi enam hari beruntun. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp15,11 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 26,12 miliar saham. Tekanan jual sangat dominan, di mana sebanyak 639 saham ditutup melemah, sementara hanya 103 saham yang berhasil menguat dan 217 saham lainnya stagnan.

Sehari sebelumnya, IHSG sudah lebih dulu terperosok 1,85 persen setelah sempat tergelincir hingga 4,38 persen selama perdagangan intraday. Kondisi ini diperparah oleh pelemahan rupiah yang kembali menyentuh rekor terendah di level Rp17.728 per dolar Amerika Serikat pada siang hari. Berdasarkan laporan Reuters, tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik, transparansi pasar, serta independensi bank sentral.

Sentimen eksternal turut memperburuk situasi. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu ketidakpastian global dan mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto sempat menanggapi pelemahan rupiah saat menghadiri agenda di Jawa Timur pada Sabtu (16/5/2026). Menurut dia, fluktuasi kurs tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa karena mayoritas tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini dinilai penting di tengah tekanan yang terus berlanjut terhadap rupiah.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada Rabu (19/5). Menurut analis sekuritas tersebut, pelemahan rupiah yang mencetak rekor terendah baru dipicu oleh kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika, serta lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Secara historis, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar saham karena meningkatkan biaya dana dan menekan minat investor terhadap aset berisiko. Namun, dalam situasi saat ini, BRI Danareksa menilai langkah tersebut justru dapat dipersepsikan positif oleh pasar apabila mampu memperkuat stabilitas rupiah dan meredam tekanan arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.

“Pergerakan saham perbankan yang masih relatif kuat hari ini menunjukkan pasar mulai mengantisipasi kebijakan hawkish sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makro,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters pada periode 11 hingga 18 Mei juga memprediksi hal serupa. Sebanyak 16 dari 29 ekonom memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga reverse repo tujuh hari menjadi 5 persen dalam RDG pada Rabu (20/5/2026).

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar