IDXChannel – Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) di kuartal pertama 2026 tercatat Rp5,9 triliun. Angka ini turun 16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih konsolidasiannya juga ikut merosot, turun 6 persen menjadi Rp78,7 triliun.
Presiden Direktur ASII, Rudy, menjelaskan penyebabnya. Menurut dia, kinerja divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi memang sedang lesu. Salah satu pemicunya adalah kontribusi dari bisnis tambang emas yang minim. Ditambah lagi, volume penjualan alat berat dan jasa penambangan juga menurun.
“Pada kuartal pertama tahun 2026, laba grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).
Nah, bicara soal divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, laba bersihnya anjlok 79 persen menjadi Rp408 miliar. Di periode yang sama, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengakui adanya non-recurring charges sebesar Rp723 miliar, terkait bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. Penurunan ini juga dipicu oleh tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe. Belum lagi, permintaan pelanggan terhadap alat berat dan jasa kontraktor pertambangan ikut tertekan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah di tahun ini.
Penjualan alat berat Komatsu misalnya, turun 20 persen menjadi 1.107 unit. Ini terutama karena sektor tambang memang sedang mengurangi permintaan.
Di sisi lain, ada kabar baik dari divisi Otomotif & Mobilitas. Laba bersihnya naik 4 persen, dari Rp2,3 triliun menjadi Rp2,4 triliun. Meski volume penjualan mobil menurun, kinerja bisnis mobilitas dan komponen ternyata cukup menopang.
Divisi Jasa Keuangan juga mencatatkan peningkatan. Laba bersihnya naik 6 persen menjadi Rp2,3 triliun. Penyebabnya? Kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen yang lebih besar, dengan portofolio pembiayaan yang terus bertambah.
Lalu, divisi Agribisnis lumayan mengejutkan. Laba bersihnya melonjak 35 persen menjadi Rp298 miliar. Ini didorong oleh penjualan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya yang naik 6 persen, mencapai 457.000 ton. Harga CPO sendiri relatif stabil di angka Rp14.556 per kg.
Divisi Infrastruktur juga tak kalah menarik. Laba bersihnya meningkat 32 persen menjadi Rp343 miliar. Tarif jalan tol yang lebih tinggi dan volume lalu lintas yang meningkat jadi faktor utamanya. Bahkan, pendapatan harian dari konsesi jalan tol ASII naik 14 persen.
Sementara itu, divisi Teknologi Informasi mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 47 persen, menjadi Rp53 miliar. Pendapatan dari solusi teknologi informasi yang lebih tinggi, plus marjin usaha yang membaik, menjadi pendorongnya.
Terakhir, divisi Properti ini yang paling mencolok. Laba bersihnya melesat 145 persen menjadi Rp115 miliar. Sebagian besar berasal dari aset-aset gudang industri yang baru saja diakuisisi.
Kalau dilihat dari sisi per saham, laba bersih per saham ASII turun 15 persen menjadi Rp146. Tapi, kalau non-recurring charges tidak diperhitungkan, penurunannya lebih kecil, hanya 7 persen menjadi Rp170. Nilai aset bersih per saham per 31 Maret 2026 malah naik 2 persen, menjadi Rp5.810.
Soal utang, posisinya agak berubah. Utang bersih tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan mencapai Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026. Bandingkan dengan posisi kas bersih Rp7,2 triliun pada akhir Desember 2025. Perubahan ini terutama karena akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham. Sementara itu, utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan justru naik, dari Rp64,9 triliun menjadi Rp66,0 triliun di periode yang sama.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Pendapatan Bakrie & Brothers Tembus Rp1,13 Triliun di Kuartal I-2026, EBITDA Melonjak 252 Persen
CDIA Raup Pendapatan USD41,2 Juta di Kuartal I-2026, Naik 19 Persen
Pendapatan Cinema XXI Tembus Rp1,1 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 18,2 Persen
Saham BRI Tertekan, Dirut Sebut Fundamental Solid dan Imbau Investor Fokus pada Dividen