JAKARTA – Pekan perdagangan kali ini bakal pendek, cuma empat hari karena libur Hari Buruh. Tapi jangan salah, tekanan di pasar modal Indonesia diprediksi masih akan terasa. IHSG, menurut sejumlah analis, diperkirakan bergerak variatif atau istilah kerennya mixed dengan kecenderungan melemah. Ini kelanjutan dari pekan sebelumnya yang jatuh cukup dalam, tepatnya koreksi 6,61 persen.
Brigita Kinari, Analis Ekuitas dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), bilang pergerakan indeks bakal banyak dipengaruhi oleh situasi global yang lagi risk-off. Belum lagi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang masa di Rp17.315 per dolar AS. Lumayan bikin deg-degan.
"Fokus pasar sekarang tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100 sampai 7.150," jelas Brigita dalam analisisnya, Senin (27/4/2026). "Kalau level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi lanjut melemah untuk menutup gap berikutnya di area 7.022–7.080, bahkan sampai menguji support psikologis di sekitar 6.917."
Nah, yang bikin pasar makin tertekan adalah eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Sampai sekarang belum ada titik terang. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mentok, dan ini bikin khawatir stabilitas pasokan energi di Selat Hormuz bakal terganggu. Ujung-ujungnya? Inflasi global bisa melonjak lagi.
Di sisi lain, pasar juga mulai mengantisipasi arah kebijakan Federal Reserve yang cenderung lebih ketat istilahnya hawkish karena harga energi yang tetap tinggi. Jadi, situasinya memang agak rumit.
"Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang bisa menjaga harga energi tetap tinggi," tambah Brigita. "Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global, dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek."
Dari dalam negeri, sentimen negatif juga bertambah. MSCI memutuskan membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Akibatnya? Aksi jual bersih investor asing terjadi masif banget. Secara akumulatif, net sell sudah mencapai Rp42,8 triliun sepanjang tahun ini.
Belum lagi, penyesuaian harga BBM non-subsidi per 18 April lalu ikut memperparah keadaan. Ini diperkirakan bakal memberi tekanan pada inflasi jangka pendek dan daya beli masyarakat. Meski Bank Indonesia sudah mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen demi stabilitas, pasar tetap pilih-pilih dan hati-hati.
"Kondisi eksternal itu juga berdampak langsung pada pelemahan rupiah," tegas Brigita. "Nilai tukar terdepresiasi drastis hingga menyentuh All Time Low di Rp17.315 per dolar AS karena derasnya aliran modal keluar dari pasar keuangan domestik."
Mengingat perdagangan pekan ini cuma berlangsung empat hari, investor disarankan tetap konservatif. Sektor energi diprediksi bakal jadi penopang di tengah tingginya harga komoditas. Sementara sektor transportasi dan logistik diperkirakan masih bisa bertahan atau istilahnya resiliensi.
Brigita menekankan pentingnya disiplin risiko. Soalnya volatilitas masih tinggi, dan situasi bisa berubah kapan saja.
"Investor disarankan menerapkan strategi defensive dengan mengedepankan disiplin risiko," pungkasnya. "Prioritaskan saham-saham yang punya kekuatan relatif dan katalis fundamental yang kuat di tengah fluktuasi pasar yang masih tinggi."
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini:
1. Buy DKFT (Entry: 805, Target Price: 900, Stop Loss: 765).
2. Buy ESSA (Entry: 945, Target Price: 1045, Stop Loss: 890).
3. Buy ERAA (Entry: 404, Target Price: 442, Stop Loss: 388).
4. Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC).
Artikel Terkait
MSCI Perpanjang Evaluasi Status Pasar Indonesia hingga Juni 2026, Potensi Arus Keluar Dana Capai Rp34 Triliun
IHSG Diprediksi Masih Tertekan di Zona Merah, Terbayangi Efek Rebalancing MSCI
Pekan Krusial Wall Street: Raksasa Teknologi Rilis Laporan, The Fed Gelar Pertemuan Terakhir Powell
Mayapada Hospital Luncurkan Teknologi Kedokteran Nuklir untuk Tingkatkan Presisi Perawatan Kanker