Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual

- Minggu, 19 April 2026 | 19:00 WIB
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual

Harga saham BCA belakangan ini memang bikin geleng-geleng. Di saat IHSG merangkak naik, justru saham kebanggaan banyak investor ini malah terpuruk. Padahal, dulu BBCA selalu jadi incaran saat harganya miring sedikit saja. Tapi sekarang? Aksi jual terus mendera, membuatnya betah nongkrong di level rendah.

Lihat saja data akhir pekan lalu. Pada penutupan Jumat, 17 Juni 2026, saham BBCA terpangkas ke level Rp6.425 per lembar. Itu artinya anjlok 18,41% dalam sehari. Cukup tajam.

Kalau kita mundur sedikit, kondisinya sungguh berbeda. Enam bulan lalu, tepatnya 5 November 2025, harganya masih mampu menyentuh Rp8.700. Bahkan setahun ke belakang, pada Mei 2025, saham bank milik Grup Djarum ini sempat melesat hingga Rp9.700. Jaraknya cukup jauh dari posisi sekarang.

Nah, di tengah tekanan ini, ada yang menarik perhatian. Justru para petinggi perusahaan sendiri yang aktif membeli saham mereka. Mereka tak tampak khawatir.

"Makanya jangan heran jika direksi Perseroan justru konsisten beli saham BBCA, di tengah tekanan jual yang ada. Maka ini jelas momentum langkah, di tengah fluktuasi pasar, petinggi BBCA bukannya defensif, tapi malah agresif dengan borong sahamnya sendiri," ujar Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, Minggu (19/4/2026).

Aksi borong itu nyata adanya. Data Triwulan I-2026 mencatat, sejumlah nama besar di internal BCA membeli saham dalam jumlah fantastis. Presiden Direktur Hendra Lembong, misalnya, menggelontorkan dana hampir Rp8 miliar. Wakil Presiden Direktur John Kosasih juga tak ketinggalan, dengan pembelian senilai Rp4,37 miliar di Maret lalu.

Masih ada lagi. Direktur Keuangan Vera Eve Lim menambah kepemilikan senilai Rp3,84 miliar. Lalu, Direktur Manajerial Frenkie Chandra mengakumulasi saham sekitar Rp2,87 miliar. Dua nama lain, Santoso dan Lianawaty, juga terlihat aktif dengan pembelian masing-masing Rp3,46 miliar dan Rp2,1 miliar.

Bagi Rendy, ini bukan sekadar beli-beli biasa. Ada strategi besar di baliknya.

"Ini tentu bukan aksi beli biasa, tapi eksekusi strategi buy on weakness, yaitu membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon. Ini bukti kuat bahwa pihak-pihak yang paling paham kondisi 'dapur' perusahaan punya keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA," jelasnya.

Keyakinan itu punya dasar. Ambil contoh dari sisi valuasi. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada Price Earning Ratio (PER) sekitar 15 kali. Artinya, investor cuma perlu bayar setara 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar dan paling efisien di negeri ini. Bandingkan dengan saham ARTO yang PER-nya melambung hingga 64 kali. Untuk setiap rupiah laba, harganya empat kali lebih mahal daripada BBCA.

Padahal, kalau bicara kemampuan mencetak laba, perbandingannya jelas tidak apple to apple.

"BBCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat. Dari segi kemampuan memperbesar laba, BBCA juga berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding ARTO, karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun," tegas Rendy.

Dengan semua perbandingan data ini, Rendy melihat ada yang "salah harga" pada saham BBCA. Pasar seolah memberi diskon besar untuk aset yang sebenarnya punya fundamental kuat. Ketimpangan inilah yang menciptakan peluang. Valuasinya berpotensi naik kembali ke level yang lebih wajar, dan momen itulah yang rupanya sedang ditunggu dan dipersiapkan oleh jajaran manajemen BCA.

Mereka sedang bersiap menyambut rebound.

"Mereka sedang pasang kuda-kuda, sedang bersiap untuk menyambut momen rebound kencang. Jadi membeli saham BBCA saat ini bisa diibaratkan membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual dengan diskon besar-besaran," pungkas Rendy.

Jadi, tekanan harga yang terjadi sekarang justru dibaca sebagai kesempatan emas oleh mereka yang paling mengerti seluk-beluk perusahaannya sendiri. Sebuah sinyal yang patut dicermati.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar