Jakarta masih terik, tapi di balik meja rapat pemerintah, ada angin perubahan yang bertiup. Tekanan pasokan minyak global, dipicu oleh ketegangan antara AS, Israel, dan Iran, memaksa langkah serius. Tanggapannya? Pemerintah merilis delapan strategi utama untuk menghemat energi. Ini bukan sekadar aturan, tapi bagian dari upaya transformasi budaya kerja dan gaya hidup yang lebih hemat, yang mulai digulirkan awal April 2026 nanti.
Targetnya luas. Tak cuma pegawai negeri, tapi juga swasta dan masyarakat umum. Intinya, anggaran harus lebih efisien, dan gaya hidup kita perlu bergeser ke arah yang lebih berkelanjutan.
Nah, apa saja langkah konkretnya?
Pertama, ada skema baru untuk ASN. Mereka akan bekerja dari rumah atau WFH setiap hari Jumat. Kebijakan ini berlaku untuk pegawai pusat dan daerah.
Kedua, soal kendaraan dinas. Penggunaannya bakal dibatasi sampai 50 persen. Dorongannya kuat ke arah transportasi umum dan kendaraan listrik. Perjalanan dinas pun dipangkas: 50% untuk dalam negeri, bahkan 70% untuk luar negeri. Pemerintah daerah juga didorong memperluas car-free day, disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah.
Lalu, bagaimana dengan swasta? Di sisi lain, sektor ini juga dapat imbauan. Meski belum wajib, pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan mendorong perusahaan untuk ikut menerapkan WFH dan berhemat energi di kantor.
Tapi, jangan salah. Tidak semua sektor bisa ikut skema ini. Beberapa layanan vital harus tetap berjalan normal dari kantor atau lapangan. Kita bicara tentang kesehatan, keamanan, kebersihan, sampai pelayanan administrasi. Industri strategis swasta seperti energi, logistik, dan keuangan juga tak kena imbas WFH.
Artikel Terkait
Laba Tugu Insurance Melonjak 77% Jadi Rp711 Miliar di 2025
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Ujian: Data Inflasi dan Laporan Laba Jadi Sorotan
MDKA Proyeksikan Kontribusi Emas Melonjak Signifikan pada 2026
Analis Prediksi Harga Emas Bisa Sentuh Rp3 Juta per Gram Pekan Depan