Harga aluminium tampaknya bakal bertahan di level tinggi untuk sementara waktu. Pemicunya? Gangguan pasokan dari Timur Tengah yang makin mengkhawatirkan.
Menurut Jonathan Ng, analis dari OCBC Group Research, sentimen pasar belakangan ini memang dipenuhi kecemasan. Rantai pasok global terancam, terutama karena situasi di Selat Hormuz yang belum stabil. Padahal, selat itu bukan cuma jalur vital minyak. Bahan-bahan baku penting seperti pupuk dan aluminium juga lewat sana.
"Kalau gangguan ini berlarut-larut, dampaknya akan luas. Banyak komoditas yang bakal kena imbasnya,"
kata Ng, seperti dilaporkan The Wall Street Journal, Rabu (18/3/2026).
OCBC sendiri memproyeksikan harga aluminium bisa menyentuh level USD3.500 per ton pada kuartal kedua 2026. Angka itu cukup ambisius, mengingat kontrak berjangka tiga bulan di LME baru saja melemah 1,1 persen ke posisi USD3.361 per ton.
Artikel Terkait
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak
Saham Konglomerat Terjun Bebas, Anjlok Hingga 40% Menjelang Lebaran