Minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 2,9 persen ke USD 96,21 per barel. Sementara Brent, patokan internasional, menguat 3,2 persen ke USD 103,42 per barel. Memang, harganya turun sedikit dari puncak intraday, tapi secara keseluruhan, kenaikan keduanya masih fantastis: lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini saja.
Di tengah semua itu, ada sedikit angin segar dari nilai tukar. Won Korea Selatan menguat, didorong oleh pelemahan dolar AS. Pelaku pasar memprediksi The Fed akan menahan suku bunganya dalam pertemuan mendatang. Sentimen ini sedikit banyak membantu menstabilkan suasana.
Bagaimana dengan bursa Asia lainnya? Performanya beragam. ASX 200 Australia cuma naik tipis 0,22 persen, STI Singapura lebih baik dengan kenaikan 0,69 persen. Sebaliknya, Shanghai Composite China malah turun 0,22 persen, dan Hang Seng Hong Kong sedikit melemah 0,10 persen.
Fokus investor sekarang terbelah. Di satu sisi, mereka antusias mengejar peluang di sektor teknologi. Di sisi lain, mereka juga waswas mengamati arah kebijakan bank sentral global. Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi lagi, dan itu bisa mengubah segalanya.
Sebagai catatan, data ekonomi Jepang yang dirilis hari ini cukup menggembirakan. Ekspor mereka tumbuh 4,2 persen pada Februari, melampaui ekspektasi. Meski angkanya melambat dibanding lonjakan Januari, setidaknya ini menunjukkan permintaan dari luar negeri masih ada. Hanya saja, momentumnya mulai berkurang.
Jadi, Rabu ini pasar Asia seperti sedang berjalan di atas tali. Di bawahnya, ada jurang volatilitas energi. Tapi untuk hari ini, langkah optimisme teknologi berhasil menjaga keseimbangan.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Konglomerat Terjun Bebas, Anjlok Hingga 40% Menjelang Lebaran