Peringkat berpeluang naik kalau kinerja BRPT menunjukkan perbaikan. Utamanya, jika profil keuangannya menguat secara berkelanjutan. Upaya menurunkan utang dan kemampuan menghasilkan arus kas yang lebih tinggi dari anak perusahaan akan jadi kunci.
Di sisi lain, ancaman penurunan juga mengintai. Ini bisa terjadi jika profil keuangan justru melemah. Misalnya, karena selisih keuntungan di bisnis petrokimia yang menipis. Atau, kalau utang membengkak lebih dari proyeksi, tapi tidak diimbangi peningkatan arus kas.
"Peringkat juga dapat berada dalam tekanan apabila terdapat pelemahan atas arus kas dari anak-anak usahanya, yang dapat dipicu oleh penurunan pendapatan di sektor petrokimia atau gangguan pada bisnis panas bumi,"
jelas Pefindo lagi.
Keputusan mempertahankan peringkat ini sudah mempertimbangkan dua akuisisi besar BRPT tahun lalu: Aster Chemicals and Energy Pte Ltd pada April 2025 dan Chevron Phillips Singapore Chemicals pada Agustus 2025.
Sebagai informasi, BRPT adalah perusahaan induk di bawah Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu. Bisnisnya berjalan di dua jalur utama: petrokimia dan energi terbarukan. Keduanya dijalankan lewat kepemilikan saham mayoritas di dua emiten, yaitu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CDIA) dan PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN).
Sampai akhir September 2025, struktur kepemilikan saham BRPT masih didominasi keluarga pendiri. Prajogo Pangestu memegang 71,36 persen. Sementara sisanya tersebar di beberapa perusahaan terkait dan publik.
Artikel Terkait
Elnusa Siapkan Empat Strategi Dukung Target Satu Juta Barel Minyak per Hari
Investor Asing Masih Melirik Manufaktur Indonesia, Fokus Beralih ke Industri Bernilai Tinggi
PANI Suntik Modal ke Tiga Anak Usaha untuk Kembangkan PIK2
MEJA Rencanakan Pembagian 372 Juta Saham Bonus dengan Rasio 6:1