Dia jelas tidak ingin pemerintah gegabah. Mengubah anggaran terburu-buru tanpa perhitungan tepat justru bakal merepotkan. Bayangkan jika nanti harga minyak turun, anggaran harus diubah lagi. Repot, kan?
“Nggak bisa, sekarang ini bisa berubah lagi, sekarang ini bisa berubah lagi. Capek lah gue, kerjanya ngerubah-rubah anggaran terus,” kelakarnya dengan nada khas. “Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya.”
Purbaya membandingkan, merespons APBN harus jauh lebih hati-hati ketimbang merespons gerakan saham. Horizon waktunya berbeda. Mengelola anggaran negara tidak bisa seperti main jual-beli saham yang volumenya berubah dalam hitungan menit.
Memang, ketegangan di Timur Tengah sempat memberikan tekanan ganda: mendongkrak harga minyak dan melemahkan nilai tukar rupiah. Gejolak itu bahkan mendorong rupiah menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS di awal perdagangan Senin. Namun begitu, pemerintah memilih untuk tak terburu-buru mengambil langkah. Mereka lebih memilih menunggu dan melihat, memastikan trennya benar-benar terbentuk, sebelum akhirnya memutuskan untuk bertindak.
Artikel Terkait
Pupuk Indonesia Niaga dan Semen Baturaja Jalin Kerja Sama Perdagangan Clay
Wall Street Turun Lagi, Tertekan Isyarat Eskalasi Ketegangan Timur Tengah
OJK Wajibkan Dana IPO Ditampung dalam Rekening Khusus
PT ITSEC Asia (CYBR) Rencanakan Stock Split 1:2, Tunggu Persetujuan RUPSLB April 2026