Analis Rekomendasikan Akumulasi Saham Undervalued Jelang Imlek 2026

- Senin, 16 Februari 2026 | 12:20 WIB
Analis Rekomendasikan Akumulasi Saham Undervalued Jelang Imlek 2026

MURIANETWORK.COM - Libur Tahun Baru Imlek, yang jatuh pada akhir Januari 2026, seringkali memberikan jeda bagi investor untuk mengevaluasi portofolio dan merencanakan langkah ke depan. Momentum jeda perdagangan ini dinilai tepat untuk mencermati peluang di pasar saham domestik, terutama dengan memasuki Tahun Kuda Api yang penuh dinamika. Analis pasar melihat sejumlah sektor, mulai dari komoditas hingga perbankan, menawarkan potensi menarik dengan dukungan fundamental ekonomi yang diperkirakan tetap solid.

Prospek Ekonomi dan Pasar di Tahun Kuda Api

Dalam sebuah paparan bertajuk “Unlocking 2026: Market Outlook and Stock Pick Opportunities”, M. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyampaikan pandangannya. Ia menilai prospek pasar saham domestik tetap menarik meski dihiasi ketidakpastian global, berkat fundamental makro ekonomi Indonesia yang relatif kokoh.

“Dari sisi makro, Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5,3 persen pada 2026 dan berlanjut ke 5,4 persen pada 2027,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa inflasi diperkirakan terjaga di kisaran 2,5 persen. Sementara itu, nilai tukar rupiah berpotensi menguat menuju Rp16.500 per dolar AS pada akhir 2026.

Peluang Teknikal dan Momentum Musiman

Dari kacamata teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sedang berada dalam kondisi jenuh jual atau oversold. Kondisi ini, meski diiringi pergeseran tren, membuka peluang untuk pemulihan. Dalam skenario optimis, indeks berpeluang menuju level 9.634 pada 2026. Namun, skenario pesimistis menempatkan IHSG di area 7.170. Untuk jangka panjang, tren naik sekuler masih diyakini berlanjut dengan target potensial menuju 10.500.

Momentum musiman juga kerap menjadi pertimbangan. Catatan historis selama 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa periode Februari hingga Juli seringkali menjadi fase positif bagi pasar saham. Perayaan Imlek, Ramadan, dan Lebaran tahun ini diprediksi dapat berperan sebagai katalis tambahan yang mendorong sentimen investor.

Rekomendasi Sektor dan Saham Potensial

Menyikapi kondisi tersebut, strategi yang direkomendasikan adalah mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat namun masih dinilai undervalued, tentu dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Beberapa sektor dinilai menawarkan prospek cerah di tahun ini.

Di sektor komoditas, prospek harga emas yang bertahan tinggi dan potensi pemulihan siklus komoditas mendorong minat pada saham-saham seperti AADI, ADRO, AMMN, HRUM, dan INCO.

“Saham berbasis emas seperti BRMS, EMAS, dan HRTA turut menjadi perhatian, sejalan dengan proyeksi harga emas global yang tetap kuat di tengah ketidakpastian geopolitik dan tren penurunan suku bunga global,” ungkap Nafan.

Sektor perbankan, khususnya bank-bank besar seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI, tetap dianggap solid. Kekuatan likuiditas, deposit, dan permodalan menjadi pilar utama, ditambah dengan potensi dividen yang menarik. Beberapa emiten bahkan diperdagangkan pada valuasi yang lebih murah dibanding rata-rata historisnya.

Sementara itu, di sektor konsumen dan ritel, saham seperti HMSP, JPFA, dan MAPI berpeluang mencatat pemulihan margin dan pertumbuhan laba. Proyeksi ini didukung oleh stabilitas daya beli masyarakat domestik serta pertumbuhan kelas menengah yang konsisten.

Sebagai catatan akhir, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Analisis dan rekomendasi ini dimaksudkan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun strategi di tengah dinamika pasar yang terus bergerak.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar