Investor Asing Akumulasi Saham Bank Mandiri Rp680 Miliar Meski IHSG Tertekan

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:00 WIB
Investor Asing Akumulasi Saham Bank Mandiri Rp680 Miliar Meski IHSG Tertekan

MURIANETWORK.COM - Aktivitas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (6 Februari 2026) menunjukkan sinyal akumulasi, dengan fokus utama pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Meski mencatat pembelian bersih harian yang signifikan, secara keseluruhan pekan dan tahun berjalan, modal asing masih tercatat keluar dari pasar modal Indonesia, seiring dengan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sentimen Harian Positif di Tengah Tekanan Pekanan

Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, investor asing mencatat aksi beli bersih (net buy) senilai Rp944,31 miliar. Yang menarik, mayoritas aliran dana tersebut sekitar 72 persen atau setara Rp680 miliar terserap oleh saham emiten perbankan pelat merah itu. Langkah ini mengindikasikan adanya kepercayaan selektif terhadap instrumen tertentu di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Namun, sorotan pada satu hari perdagangan tidak serta-merta mencerminkan tren keseluruhan. Jika dilihat dari rentang waktu yang lebih panjang, tekanan jual masih dominan. Sepanjang pekan tanggal 2-6 Februari 2026, investor asing masih mencatatkan pelepasan bersih (net sell) sebesar Rp1,14 triliun. Bahkan, akumulasi net sell sejak awal tahun telah mencapai angka Rp11,02 triliun.

IHSG Tertekan dan Respons Pihak Bursa

Tekanan jual yang berkelanjutan tersebut turut berdampak pada pergerakan indeks. Dalam sepekan, IHSG terkoreksi cukup dalam sebesar 4,69 persen ke level 7.935. Pelemahan ini secara otomatis mengurangi nilai kapitalisasi pasar BEI menjadi Rp14.341 triliun, turun dari posisi pekan sebelumnya di Rp15.046 triliun.

Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan BEI, Alit Nityaryana, mengonfirmasi data tersebut. Dalam keterangan resminya, ia merinci pergerakan modal asing.

"Data perdagangan saham di BEI selama periode 2-6 Februari 2026 ditutup dengan total nilai beli bersih oleh investor asing pada hari ini sebesar Rp944,31 miliar dan sepanjang tahun 2026 ini mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp11,02 triliun," jelasnya.

Volatilitas Pasar Mulai Mereda

Di balik koreksi indeks, terdapat indikasi bahwa gejolak pasar mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejumlah indikator teknis, seperti frekuensi, volume, dan nilai transaksi harian, mengalami penurunan yang cukup tajam. Fenomena ini dapat ditafsirkan sebagai berkurangnya aksi panic selling yang sempat melanda pasar usai pengumuman MSCI pada pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 28,6 persen menjadi 2,72 kali, sementara volume transaksi menyusut 31,75 persen menjadi 43,2 miliar saham. Nilai transaksi harian rata-rata juga merosot 43,45 persen menjadi Rp24,75 triliun. Pola ini menggambarkan aktivitas perdagangan yang lebih tenang.

Pola Investasi Asing yang Selektif

Pengamatan terhadap pola transaksi investor asing mengungkapkan strategi yang sangat selektif dan berhati-hati. Dana asing skala besar cenderung berputar di sekitar saham-saham blue chip dengan fundamental kuat, seperti perbankan besar, sementara menghindari saham yang dianggap kurang likuid atau memiliki profil risiko tinggi. Pendekatan ini menegaskan prinsip kehati-hatian mereka dalam mengelola portofolio di pasar berkembang.

Daftar Saham yang Dibeli dan Dilepas Asing

Berikut adalah rincian saham-saham yang menjadi sasaran utama akumulasi dan pelepasan oleh investor asing selama sepekan (2-6 Februari 2026):

NET BUY (Pembelian Bersih):
PT XL Axiata Tbk (EXCL) Rp206,8 miliar
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp158,8 miliar
PT Astra International Tbk (ASII) Rp123,4 miliar
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) Rp103,2 miliar
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp100,4 miliar.

NET SELL (Penjualan Bersih):
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) -Rp453,7 miliar
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) -Rp336,5 miliar
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) -Rp332,9 miliar
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) -Rp326,2 miliar
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) -Rp265,3 miliar

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar