Saham TUGU Tunjukkan Ketahanan dan Pulih Lebih Cepat dari Gejolak MSCI

- Jumat, 06 Februari 2026 | 09:50 WIB
Saham TUGU Tunjukkan Ketahanan dan Pulih Lebih Cepat dari Gejolak MSCI

MURIANETWORK.COM - Saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) menunjukkan ketahanan yang mengesankan di tengah gejolak pasar yang dipicu sentimen rebalancing indeks MSCI. Meski sempat terkoreksi bersama pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), emiten asuransi dari Pertamina Grup ini berhasil bangkit dan pulih dalam waktu kurang dari seminggu, bahkan mengungguli kinerja indeks acuan.

Pergerakan Harga dan Ketahanan di Tengah Volatilitas

Pada perdagangan Kamis (5 Februari 2026), saham TUGU ditutup menguat 5,04 persen ke level Rp1.250. Kenaikan ini merupakan pemulihan signifikan dari posisi terendahnya di Rp1.115 pada 28 Januari 2026, saat saham tersebut terkoreksi 5,15 persen. Yang patut dicatat, koreksi TUGU saat itu jauh lebih ringan dibandingkan IHSG yang anjlok 7,35 persen dalam hari yang sama.

Meski IHSG secara keseluruhan masih dalam tekanan dan terkoreksi 9,76 persen dari level akhir Januari, posisi TUGU justru telah berhasil melampaui level penutupan sebelumnya. Pemulihan yang lebih cepat ini mengindikasikan adanya faktor-faktor spesifik yang mendukung ketahanan saham tersebut di tengah arus keluar modal asing.

Analisis Sentimen Pasar dan Posisi TUGU

Menurut analis pasar modal Kharel Devin dari Trimegah Sekuritas, sentimen seputar rebalancing MSCI memang masih menjadi penggerak utama pasar. Kekhawatiran investor terhadap transparansi free float saham-saham Indonesia memicu aksi jual, namun kondisi ini tidak serta merta mencerminkan kinerja fundamental semua perusahaan.

"MSCI adalah sentimen yang dominan saat ini. Namun sebenarnya bukan berarti semua saham yang turun kinerjanya buruk. Beberapa saham bahkan masih menyimpan value yang atraktif untuk investasi jangka menengah panjang seperti TUGU," ungkap Kharel dalam analisisnya, Jumat (6 Februari 2026).

Kharel menjelaskan, ketahanan relatif TUGU diduga berasal dari komposisi kepemilikan asingnya. Meski di sektor asuransi umum eksposur dan likuiditasnya terhadap dana asing terbilang tinggi, namun dalam skala pasar yang lebih luas, kepemilikannya masih relatif kecil. Hal ini membuat saham TUGU tidak terlalu terpukul oleh arus keluar modal asing masif dalam beberapa hari terakhir.

Daya Tarik Fundamental dan Proyeksi Dividen

Di balik dinamika pasar jangka pendek, karakter fundamental TUGU sebagai saham defensif dan undervalued menjadi pertimbangan penting. Perusahaan dikenal konsisten dalam membagikan dividen dengan imbal hasil yang menarik bagi investor.

"Tiga empat tahun terakhir payout 40 persen dan dividend yield 6-7 persen. Ini tergolong high yield karena lebih tinggi dari bunga deposito. Valuasi di 0,38x Price to Book Value (PBV) juga di bawah rata-rata valuasi peers di 0,6-0,7x PBV. Artinya potensi upsidenya masih tinggi," jelasnya.

Kharel memproyeksikan TUGU mampu mempertahankan rasio pembagian dividen di level 40 persen. Dengan perkiraan laba bersih konsolidasi untuk tahun buku 2025 yang tetap kuat di atas Rp700 miliar, dividen tunai yang dibagikan berpotensi mencapai Rp291 miliar atau setara Rp82 per saham.

"Dengan harga sekarang yield bisa tembus 8,2 persen. Ini sangat atraktif. Ini bisa menjadi katalis positif untuk saham TUGU. Jika dalam short term sentiment masih volatile setidaknya kalaupun tidak rebound expect saham TUGU lebih stabil," lanjut Kharel.

Proyeksi Kinerja dan Penutup

Estimasi laba bersih konsolidasi TUGU untuk 2025 berada di kisaran Rp715-738 miliar. Angka ini didukung oleh kontribusi solid dari segmen asuransi umum dan reasuransi, serta dukungan dari segmen usaha non-asuransi. Dalam pandangan analis, kombinasi antara valuasi yang masih rendah, imbal hasil dividen yang tinggi, dan fundamental yang sehat dapat menjadi penopang bagi stabilitas dan prospek saham TUGU ke depan, meskipun sentimen pasar global masih bergejolak.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar