Di hadapan para kepala daerah dan pejabat pusat yang berkumpul di Sentul, Jawa Barat, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto menyuarakan seruan yang tegas. Intinya satu: bersatu melawan kemiskinan. Ia mengajak semua pihak, dari latar belakang dan partai mana pun, untuk turun tangan. "Kita harus berjuang bersama-sama," tegasnya.
Namun begitu, Prabowo tak menampik adanya suara-suara pesimis di tengah upaya itu. Ia bahkan terlihat geram dengan kelompok yang kerap meragukan target pemerintah.
"Kita tidak boleh mengatakan 'aduh apa bisa?' 'apa mampu?'" ujarnya, dengan nada tinggi.
Lalu ia menyindir, "Karena di sini banyak kelompok, ada kelompok-kelompok 'apa bisa' 'apa mampu', selalu menimbulkan keraguan-keraguan. Ini orang Indonesia atau orang apa ini? Saya bingung."
Di sisi lain, Prabowo juga menyentil sebuah fenomena unik di Indonesia: banyaknya istilah untuk menyebut kondisi miskin. Menurutnya, kita sering tak mau mengakui keadaan secara gamblang.
"Kita enggak mau bilang miskin, enggak enak," katanya. Alhasil, muncul sebutan seperti 'pra sejahtera' atau 'hampir miskin'. Ia juga menyoroti istilah aspiring middle class kelas menengah yang masih dalam angan untuk menggambarkan orang miskin yang sedang berusaha naik kelas.
Artikel Terkait
IHSG Terjun Bebas 5,32% Dihantam Isu Transparansi MSCI
AS Puncaki Surplus Dagang Indonesia, Sentuh Angka Rp 18,1 Miliar
GPSO Pacu Ekspansi Besar: Rp700 Miliar Digelontorkan untuk Akuisisi dan Konsolidasi
Bitcoin Tersungkur ke Level Terendah Setahun, Pasar Kripto Diguncang Pergantian Fed