Sektor material jadi korban utama, ambles 1,9% seiring dengan aksi jual di saham-saham tambang. Berbanding terbalik, sektor barang konsumsi defensif justru naik 1,4%, dipimpin oleh Colgate-Palmolive yang melonjak hampir 6% berkat proyeksi penjualan yang optimis.
Nah, soal laporan kinerja, reaksinya beragam banget. Apple, misalnya, berhasil bangkit 0,4% setelah sempat tertekan. Mereka memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang cukup menjanjikan untuk kuartal depan, meski mengeluh soal tekanan harga chip yang menggerus profit.
Tapi nasib baik tidak menghampiri semua raksasa teknologi. Microsoft masih terpukul, turun 0,7% setelah sehari sebelumnya terjun bebas 10% karena kinerja cloud-nya mengecewakan. Meta juga ikut terpuruk, melemah 3%.
Yang menarik justru Tesla. Setelah sempat jatuh, sahamnya malah melonjak 3,3% di hari Jumat dan jadi penyumbang kenaikan terbesar untuk S&P 500. Kabar soal kemungkinan kolaborasi dengan SpaceX, perusahaan Elon Musk yang lain, rupanya mampu memompa semangat investor.
Secara keseluruhan, suasana perdagangan memang lebih banyak muramnya. Di NYSE, lebih banyak saham yang melemah daripada yang menguat. Volume perdagangan juga relatif tinggi, mencapai 23,88 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari.
Meski pekan ini berakhir suram, kalau dilihat dari performa sebulan penuh, ceritanya berbeda. Indeks Russell 2000, misalnya, masih mencatatkan kenaikan bulanan lebih dari 5%, mengalahkan kinerja S&P 500 dan Nasdaq. Bahkan Dow Jones berhasil meraih kenaikan bulanan ke-9 berturut-turut rekor terpanjang sejak 2018. Jadi, meski hari ini diguyur hujan, secara keseluruhan bulan Januari masih cerah bagi Wall Street.
Artikel Terkait
IHSG Jatuh 418 Poin, Pasar Saham Terkapar di Tengah Sentimen Negatif
IHSG Jatuh Terjerembap 5% di Awal Pekan, Diterpa Teguran MSCI dan Gelombang Mundur Pejabat
BEI Cabut Suspensi Empat Saham dan Satu Waran, Langsung Masuk Papan Khusus
Pagi Ini, IHSG Diramal Bangkit Usai Sinyal Morning Star