Perubahan di pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menemukan bentuknya. Setelah serangkaian pengunduran diri Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara, dan Inarno Jajadi tampuk kepemimpinan kini dipegang oleh Friderica Widyasari Dewi. Beliau merangkap sebagai Ketua dan Wakil Ketua. Sementara itu, Hasan Fawzi mengambil alih kendali sebagai Kepala Eksekutif Pasar Modal, sambil tetap memegang jabatan lamanya.
Transisi ini berjalan cepat, diputuskan oleh internal Dewan Komisioner OJK sendiri. Meski jumlah komisioner inti kini tinggal enam orang ditambah dua perwakilan dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia saya percaya kedelapan orang ini punya kapasitas untuk memimpin. Tantangannya tentu tidak kecil, tapi harapannya besar.
Nah, ke mana arahnya nanti? Di bawah kepemimpinan kolektif yang dipimpin Ibu Friderica atau yang akrab disapa Ibu Kiki beberapa hal ini rasanya perlu jadi prioritas.
Pertama, soal kepercayaan. Fondasi pasar sangat bergantung pada independensi dan profesionalisme OJK. Ini harga mati. Pemerintah dan DPR, di sisi lain, harus bisa menahan diri. Posisi mereka sebaiknya hanya memberi masukan, bukan ikut campur atau mengambil alih kewenangan yang jelas-jelas ada di tangan OJK dan BI.
Kedua, di ranah kebijakan teknis. Saya pernah menyampaikan ke beberapa media, OJK perlu memberi porsi lebih besar untuk aturan free float. Kabar baiknya, mulai Februari 2026 nanti, aturan ini akan naik dari 7,5% menjadi 15%. Langkah ini patut diapresiasi, dan semoga bisa diperluas lagi secara bertahap.
Ketiga, transparansi kepemilikan. Sudah saatnya dibuka lebih lebar siapa pemilik manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner) dari setiap emiten. Dengan data itu, lembaga pemeringkat seperti MSCI bisa menilai risiko dengan lebih akurat. Pasar pun jadi lebih sehat.
Artikel Terkait
Langkah Emas BSI: Saat CFD Tak Hanya Soal Kaki, Tapi Juga Kekayaan
OJK Siapkan Delapan Jurus Perbaiki Pasar Modal Usai Tekanan MSCI
Kilang Balongan Suntik Bahan Baku, Polytama Genjot Produksi Polypropylene
BEI Buka Suara: Saham Gorengan Bukan Soal Jenis, Tapi Aksi Manipulasi