Lalu, bagaimana prospek ke depan? Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, tekanan belum akan reda. Rupiah diprediksi masih tertekan saat pembukaan pasar Senin nanti.
Faktornya tidak cuma dari dalam negeri. Di sisi lain, ketidakpastian politik di AS soal siapa penerus pimpinan The Fed, plus ketegangan geopolitik AS-Iran, menambah beban. Faktor eksternal ini dominan pengaruhnya.
"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah," ujar Ibrahim.
Kisarannya, dia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp16.780 sampai Rp16.810 per dolar AS.
Menyikapi ini, Bank Indonesia tak tinggal diam. Upaya meredam gejolak terus dilakukan, antara lain dengan memperkuat pengelolaan cadangan devisa dan kebijakan makroprudensial. Ada lima sinergi strategis yang digencarkan, mulai dari mendorong hilirisasi hingga akselerasi digitalisasi ekonomi.
Ibrahim menilai langkah-langkah BI ini krusial. Apalagi di tengah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar yang masih perkasa.
“Guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya.
Ke depan, sinergi pemerintah dan BI mutlak diperlukan. Tujuannya jelas: mengembalikan kepercayaan investor global. Terutama setelah gonjang-ganjing dan perombakan besar di tubuh pengawas pasar modal kita. Pekerjaan rumahnya masih banyak.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak