Bitcoin kembali tergelincir. Aset kripto terbesar itu tercatat anjlok 6,53 persen, hingga ke posisi USD 78.719,63 pada Sabtu dini hari (31/1). Penurunan ini melanjutkan tren negatif dari sesi sebelumnya. Bahkan, dalam pergerakannya, harga sempat merosot lebih dalam hingga 7,07 persen ke level USD 78.252.
Ini adalah posisi terendah yang dicatat bitcoin sejak 21 November tahun lalu, setelah pada Jumat harganya menyentuh USD 81.104. Lalu, apa pemicunya?
Menurut sejumlah analis yang dilansir Reuters, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor kunci. Mata uang Amerika itu menguat setelah ada pengumuman penting dari Gedung Putih: mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, akan menggantikan Jerome Powell sebagai ketua bank sentral berikutnya.
Kabarnya, keputusan ini langsung disambut kekhawatiran di kalangan investor. Mereka waswas Warsh akan mengambil langkah lebih ketat terkait peredaran uang tunai. Warsh sendiri dikenal vokal menyerukan perubahan di bank sentral, termasuk soal mengecilkan neraca The Fed yang saat ini membengkak.
Nah, ini masalahnya. Bitcoin dan aset kripto sejenisnya selama ini justru cenderung menguat ketika The Fed membanjiri pasar dengan likuiditas. Perubahan arah kebijakan berpotensi mengganggu dinamika itu.
Brian Jacobsen, Kepala Ekonom di Annex Wealth Management, Wisconsin, punya pandangan menarik. Menurutnya, neraca The Fed yang besar, ditambah regulasi perbankan yang ketat, justru menjebak likuiditas di Wall Street.
"Aliran uang itu tidak sampai ke masyarakat luas. Uangnya malah berputar-putar di sana, memicu gelembung di berbagai aset mulai dari obligasi, kripto, hingga saham meme," jelas Jacobsen.
Efek penurunan tak hanya dirasakan bitcoin. Ether, mata uang kripto terbesar kedua, juga terpuruk dengan penurunan tajam 11,76 persen menjadi USD 2.387,77 di Sabtu sore. Aset digital ini memang masih terus berjuang bangkit setelah jatuh tahun lalu, kalah bersaing dengan reli emas dan saham.
Bagi Jacobsen, koreksi pada Jumat lalu adalah pengingat yang bagus tentang risiko volatilitas di dunia kripto.
"Terkadang penyesuaian harga ini saling memperkuat. Mungkin, jika bukan pasti, kita akan melihat lebih banyak aksi jual dalam beberapa hari ke depan," katanya.
Jadi, tampaknya pasar masih akan berdebu. Investor sebaiknya bersiap untuk hari-hari yang bergejolak.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020