Di sisi lain, ancaman penurunan peringkat juga mengintai. Ini bisa terjadi jika pendapatan atau EBITDA perusahaan jatuh di bawah proyeksi. Penyebabnya bisa macam-macam, misalnya profitabilitas yang tergerus atau permintaan pasar yang melemah. Penambahan utang yang tak diimbangi kinerja bisnis juga jadi faktor risiko.
Kalau melihat sumber pendapatannya, DEWA memang punya pondasi yang cukup kokoh. Sebagian besar pendapatan perusahaan ini bersumber dari afiliasinya, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Relasi ini jelas memberikan pijakan yang solid di industri pertambangan.
Siapa saja yang memegang sahamnya? Per akhir Desember 2025, kepemilikan saham DEWA cukup beragam. Ada PT Andhesti Tungkas Pratama (8,55%), CIMB Securities Limited (6,38%), dan PT CGS International Sekuritas Indonesia (5,53%). Kemudian Goldwave Capital Limited menguasai 9,38%, disusul Zurich Assets International Ltd sebesar 6,18%. Sisanya, sekitar 64%, dipegang oleh publik.
Bagaimana reaksi pasar? Tampaknya ada sedikit kelegaan. Pada perdagangan Jumat, 31 Januari 2026, saham DEWA berhasil rebound 2,86% ke level Rp540 per lembar. Meski begitu, dalam rentang sepekan, saham ini masih tercatat terkoreksi cukup dalam, yaitu 21,17%. Perjalanannya di pasar modal masih panjang.
Artikel Terkait
Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen
Serangan ke Pelabuhan Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Disrupsi Pasokan Global
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Baku, Produsen Kemasan EPAC Naikkan Harga Jual
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026