Jakarta - Pekan terakhir Januari 2026 benar-benar jadi ujian berat bagi pasar modal kita. IHSG terpuruk, bahkan perdagangan sempat berhenti total bukan cuma sekali, melainkan dua kali dalam hitungan hari. Suasana tegang jelas terasa di lantai bursa.
Data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan betapa parahnya pekan itu. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 6,94 persen, terhempas dari level 8.951,010 ke posisi 8.329,606. Penurunan yang cukup dalam untuk periode sependek itu.
Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan BEI, mengonfirmasi angka-angka ini dalam keterangannya di akhir pekan.
Yang bikin was-was, trading halt alias penghentian perdagangan sementara terjadi dua kali: pertama di sesi II Rabu, 28 Januari, lalu berlanjut ke sesi I keesokan harinya, Kamis, 29 Januari. Ini sinyal jelas betapa paniknya pasar.
Nilai kapitalisasi pasar pun ikut merosot tajam, 7,37 persen, menyusut dari Rp16.244 triliun menjadi hanya Rp15.046 triliun. Di sisi lain, ada sedikit cerah meski tak sebanding dengan kerugian: nilai transaksi harian rata-rata justru melonjak 29,28 persen ke angka Rp43,76 triliun. Volume dan frekuensi transaksi juga naik, menunjukkan aktivitas yang sangat tinggi mungkin didorong oleh aksi jual massal.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak