Nah, kalau dibandingkan dengan negara lain, posisi kita memang tertinggal. Airlangga menyebutkan, free float saham di Thailand sudah mencapai 15 persen. Singapura dan Filipina ada di angka 10 persen, bahkan Inggris pun sama. Indonesia? Selama ini lebih rendah dari itu semua.
“Jadi kita ambil angka yang relatif lebih terbuka dengan tata kelola yang lebih baik,”
tambahnya. Angka 15 persen itu dipilih sebagai bentuk keterbukaan, sekaligus upaya perbaikan tata kelola.
Targetnya, aturan baru ini mulai berlaku pada Maret mendatang. Pemerintah berharap stabilitas perdagangan saham bisa terjaga. Di sisi lain, daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global diharapkan semakin menguat. Semua itu bertujuan meredam dampak tekanan yang sempat membuat pasar bergetar hebat beberapa waktu lalu.
Artikel Terkait
BRI Salurkan Kredit Rp4 Triliun ke Dua Anak Usaha Golden Energy Mines
GEMA Gelar Buyback Saham Senilai Rp2 Miliar hingga 2026
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 Belum Dipangkas Pemerintah
IHSG Anjlok 1,61%, Sentimen Jual Dominasi Pasar