"Buat kami di Danantara, fokus kami ya berinvestasi, dan tentu salah satunya di public market. Kami menginginkan pasar modal yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit," tegas Pandu.
Dia mengakui, strategi investasi mereka akan disesuaikan secara proporsional jika likuiditas pasar tergerus karena perubahan status Indonesia di panggung global. "Tentu kami akan berinvestasi proporsional. Apabila nanti likuiditasnya menurun, itu akan kami perhitungkan," katanya.
Di sisi lain, ancaman pergeseran status dari emerging ke frontier market ini bukan main-main. Risikonya? Bisa memicu arus keluar modal asing yang masif, sekitar USD 25 hingga 50 miliar, dari pasar keuangan dalam negeri.
"Kalau untuk perubahan ke frontier market, kurang lebih USD 25-50 miliar yang bisa keluar," imbuh Pandu, menggarisbawahi besarnya potensi capital outflow tersebut.
Kunthi Fahmar Sandy
Artikel Terkait
Emas, Pilar Ketahanan Finansial Keluarga di Tengah Gejolak Ekonomi
Emas Tembus Rp3 Juta, Pedagang Pasar Cikini Ungkap Rahasia Investasi yang Tak Lekang Zaman
IHSG Tergelincir 88 Poin, Sektor Transportasi Jadi Penyelamat di Tengah Banjir Merah
Sarapan Pagi di Kantor Menko Perekonomian, Para Petinggi Bahas Strategi Jaga Stabilitas