Di tengah gejolak seperti ini, saran Budi untuk investor ritel sederhana: jangan terbawa emosi. “Jangan jual karena ini menambah tekanan lebih besar lagi,” katanya. Justru, kalau masih ada dana menganggur, bisa dipertimbangkan untuk mulai mengoleksi saham saat IHSG menunjukkan tanda-tanda stabil, mungkin besok atau awal minggu depan.
Pandangan serupa datang dari pengamat lain, Desmond Wira. Ia menilai dampak ke investor ritel itu besar, meski jumlah pemain asingnya tak banyak.
Potensi degradasi status pasar, menurutnya, bakal jadi tekanan tambahan. Arus keluar dana asing bisa berlangsung lama, semua tergantung respons BEI. “Tergantung tindak lanjut dari BEI. Mau memperbaiki soal transparansi misalnya tentang free float seperti yang disyaratkan MSCI nggak. Kalau nggak mau ya potensi anjlok lama nggak balik-balik,” ungkapnya blak-blakan.
Dan hampir tak ada emiten yang kebal. “Hampir semua. Ini soal sentimen,” imbuhnya. Saat institusi asing jual, ritel seringkali ikut-ikutan. Akibatnya, seluruh papan tergerus, tanpa peduli apakah saham itu banyak dipegang asing atau tidak.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak