Di tengah gejolak seperti ini, saran Budi untuk investor ritel sederhana: jangan terbawa emosi. “Jangan jual karena ini menambah tekanan lebih besar lagi,” katanya. Justru, kalau masih ada dana menganggur, bisa dipertimbangkan untuk mulai mengoleksi saham saat IHSG menunjukkan tanda-tanda stabil, mungkin besok atau awal minggu depan.
Pandangan serupa datang dari pengamat lain, Desmond Wira. Ia menilai dampak ke investor ritel itu besar, meski jumlah pemain asingnya tak banyak.
Potensi degradasi status pasar, menurutnya, bakal jadi tekanan tambahan. Arus keluar dana asing bisa berlangsung lama, semua tergantung respons BEI. “Tergantung tindak lanjut dari BEI. Mau memperbaiki soal transparansi misalnya tentang free float seperti yang disyaratkan MSCI nggak. Kalau nggak mau ya potensi anjlok lama nggak balik-balik,” ungkapnya blak-blakan.
Dan hampir tak ada emiten yang kebal. “Hampir semua. Ini soal sentimen,” imbuhnya. Saat institusi asing jual, ritel seringkali ikut-ikutan. Akibatnya, seluruh papan tergerus, tanpa peduli apakah saham itu banyak dipegang asing atau tidak.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok, Airlangga: Momentum untuk Reformasi Pasar Modal
OJK Siapkan Langkah Konkret Menjawab Pembekuan Saham oleh MSCI
IHSG Anjlok 5,91%, BEI Terpaksa Hentikan Perdagangan Sementara
Tambang Emas Martabe Bakal Dikendalikan BUMN Baru di Bawah Danantara