Di sisi lain, data pasokan dari dalam negeri AS justru memberikan dukungan kuat. Laporan Badan Informasi Energi (EIA) mengejutkan banyak analis. Alih-alih naik seperti yang diperkirakan, persediaan minyak mentah AS justru turun 2,3 juta barel. Penurunan ini didorong oleh ekspor yang kuat dan impor yang lebih rendah.
Giovanni Staunovo, analis UBS, berkomentar soal laporan ini.
Cuaca dingin itu sendiri memang telah mengacaukan produksi. Badai musim dingin yang menerjang AS memaksa penutupan sumur-sumur minyak, memangkas produksi domestik sekitar 600.000 barel per hari. Gangguan produksi juga terjadi di Kazakhstan, meskipun negara anggota OPEC itu berharap produksi di Lapangan Tengiz bisa pulih dalam seminggu. Beberapa sumber meragukannya, mereka bilang pemulihan bisa butuh waktu lebih lama.
Faktor terakhir yang mendongkrak harga adalah melemahnya dolar AS. Dolar yang melemah ke level terendah empat tahun terhadap sejumlah mata uang utama membuat minyak yang harganya ditetapkan dalam dolar jadi lebih terjangkau bagi pembeli dengan mata uang lain. Ini mendorong permintaan.
Sementara itu, Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga pada Rabu. Bank sentral AS itu menyoroti inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang solid, tanpa memberikan sinyal jelas kapan pemotongan suku bunga akan dimulai. Keputusan ini turut mempengaruhi dinamika nilai tukar dan, pada akhirnya, harga komoditas seperti minyak.
Artikel Terkait
Mimpi Setinggi Langit dari Ruang Belajar Beralaskan Lantai
Prajogo Pangestu Borong Rp100 Miliar Saham CUAN di Tengah Kejatuhan Pasar
Menteri Keuangan Purbaya: To the Moon, Jangan Takut! Meski IHSG Anjlok, Target 10.000 Poin di 2026 Tetap Dikejar
Guncangan MSCI: IHSG Terkapar, Investor Ritel Ikut Panik