Pasar Modal Indonesia Dapat Kartu Kuning dari MSCI, Rp150 Triliun Terancam Keluar

- Rabu, 28 Januari 2026 | 09:20 WIB
Pasar Modal Indonesia Dapat Kartu Kuning dari MSCI, Rp150 Triliun Terancam Keluar

Meski masih skenario, pasar biasanya sudah mulai mengantisipasi lebih awal. Sikap defensif investor global bisa menguat jauh sebelum batas waktu itu tiba.

Akar Masalah: Transparansi yang Dipertanyakan

Keputusan MSCI ini datang setelah mereka menyelesaikan konsultasi mengenai penilaian free float saham Indonesia. Memang ada sebagian pihak yang mendukung penggunaan data KSEI. Namun, mayoritas investor global justru menyuarakan kekhawatiran mendalam.

Masalahnya klasik: struktur kepemilikan saham yang kurang transparan. Ada juga kekhawatiran soal potensi perdagangan terkoordinasi yang bisa mengganggu pembentukan harga wajar. Perbaikan minor dari BEI dianggap belum menyentuh persoalan inti. MSCI pun menilai Indonesia butuh menyediakan informasi kepemilikan yang lebih rinci dan andal.

Sebagai respons, MSCI langsung menerapkan perlakuan sementara. Mulai sekarang, mereka membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham tercatat. Tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks investable mereka, apalagi kenaikan kelas saham misalnya dari Small Cap ke Standard.

Tujuannya jelas: membatasi perputaran indeks dan mengurangi risiko, sambil memberi waktu bagi otoritas Indonesia untuk berbenah.

Peringatan Terakhir Menuju Mei 2026

Ini bukan sekadar pembekuan sementara. MSCI memberikan tenggat waktu. Jika hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan signifikan dalam transparansi pasar, status Indonesia akan ditinjau ulang. Hasilnya bisa berupa penurunan bobot di indeks Emerging Markets.

Yang lebih ekstrem, Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market. MSCI menyatakan akan terus memantau perkembangan dan berkomunikasi dengan OJK dan BEI. Langkah selanjutnya benar-benar tergantung pada respons dan perbaikan dari dalam negeri.

Jadi, bola sepenuhnya ada di pengadilan Indonesia. Waktunya tinggal dua tahun untuk membuktikan komitmen terhadap tata kelola pasar yang lebih terbuka dan kredibel di mata dunia.


Halaman:

Komentar