BCA Proyeksikan BI Rate Turun 1-2 Kali pada 2026, Sapa Deputi Gubernur Baru

- Selasa, 27 Januari 2026 | 17:48 WIB
BCA Proyeksikan BI Rate Turun 1-2 Kali pada 2026, Sapa Deputi Gubernur Baru

Proyeksi Bunga BI dan Harapan untuk Deputi Gubernur Baru

Di tengah gejolak politik Amerika Serikat yang memengaruhi kebijakan The Fed, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memproyeksikan Bank Indonesia akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada tahun 2026. Prediksinya, pemotongan akan terjadi satu hingga dua kali sepanjang tahun itu.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers, Selasa (27/1). Ia mengakui, proyeksi tahun ini lebih konservatif dibanding realitas tahun lalu.

"Tahun lalu kita proyeksikan 3 kali, tapi melihat situasi di AS yang memang tidak seagresif yang diperkirakan," jelas Hendra.

Faktanya, sepanjang 2025 BI ternyata lebih agresif. Suku bunga turun lima kali, atau total 125 basis poin, dari 6% ke level 4,75%. Perbedaan yang cukup signifikan.

"Untuk saat ini, ya, kita prediksi penurunan BI rate itu antara 1-2 kali," ujarnya menegaskan.

Selain soal suku bunga, perhatian juga tertuju pada pengangkatan baru di jajaran BI. Thomas Djiwandono resmi menjadi Deputi Gubernur BI periode 2026-2031 setelah disahkan DPR dalam Rapat Paripurna.

Hendra Lembong menyambut baik terpilihnya Thomas. BCA berharap kehadirannya bisa memberi dampak positif.

"Ya, tentu harapannya beliau bisa membawa ide-ide baru yang lebih baik lagi untuk membantu pertumbuhan ekonomi," katanya.

BCA sendiri sudah berencana mengadakan pertemuan resmi dengan Thomas. Namun, soal waktu dan agendanya, Hendra belum mau merinci lebih jauh.

"Kita ada rencana tentu bertemu dengan beliau setelah lebih resmi. Mungkin di pertemuan berikut kita bisa "share", ya, setelah pertemuan kita dengan beliau," tuturnya.

Sebelumnya, Thomas sendiri telah menegaskan komitmennya. Saat ditemui di Senayan usai pengesahan, ia bertekad menjaga independensi bank sentral.

“Di sini saya ingin sampaikan sekali lagi komitmen saya untuk menjaga independensi bank sentral dan juga menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter,” kata Thomas.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisinya, menggantikan Juda Agung, di tengah harapan banyak pihak akan kebijakan moneter ke depan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar