Pasar Sepi, Pedagang Daging Mogok Jual Gegara Harga Sapi Melambung

- Jumat, 23 Januari 2026 | 06:20 WIB
Pasar Sepi, Pedagang Daging Mogok Jual Gegara Harga Sapi Melambung

Jakarta, Kamis (22/1/2026) – Suasana sepi menyelimuti los-los daging di Pasar Rawasari, Cempaka Putih. Tak ada aktivitas tawar-menawar, tak terlihat daging segar digantung. Hanya pintu-pintu toko yang terkunci rapat. Ini bukan libur biasa, melainkan aksi mogok jualan yang dilakukan para pedagang daging se-Jabodetabek.

Protes mereka tertuju pada melambungnya harga sapi hidup. Menurut para pedagang, kenaikan di tingkat peternak ini terlalu tajam dan tak sebanding dengan daya beli konsumen di lapangan. Alhasil, mereka terjepit. Menjual dengan harga baru berarti risiko kehilangan pelanggan, tapi menahan rugi jelas bukan pilihan.

Darsa, salah satu pedagang, mencoba menjelaskan dilema ini. Suaranya terdengar frustrasi.

"Sekarang semuanya mogok. Harganya mahal, naik terus. Tapi coba naikin harga ke pelanggan? Susah! Masalahnya kan naik dari atas, kita di bawah ya nggak bisa jualan seperti biasa," ujarnya.

Dia memberi contoh nyata. Daging sapi lokal yang biasa dia jual sekitar Rp130 ribu per kilogram, sekarang harus dinaikkan di atas Rp140 ribu. Kenaikan ini, katanya, sudah berlangsung sejak sebelum tahun baru. "Memang dari sananya sudah naik," lanjut Darsa.

Di sisi lain, aksi ini langsung berdampak pada warga yang membutuhkan daging. Anton, seorang pembeli, mengaku sudah berkeliling ke enam pasar berbeda mulai Rawamangun, Ampera, Rawasari, hingga Sumber Batu. Hasilnya nihil. "Tutup semua. Sulit banget cari daging," keluhnya.

Kesulitan serupa dirasakan Herman, pengusaha warung makan Padang. Baginya, ini masalah serius. Menu utamanya kan bergantung pada daging.

"Enggak ada yang dijual hari ini. Saya jualan nasi, harus pakai daging. Kalau warung Padang enggak ada daging, ya repot. Nggak tahu harus gimana," ucap Herman, tampak bingung.

Jadi, suasana pasar yang sunyi ini bukan tanpa alasan. Ada tekanan ekonomi yang riil, dirasakan baik oleh pedagang maupun konsumen. Mogok jualan mungkin satu-satunya cara mereka bersuara, meski harus mengorbankan omzet sehari. Sementara itu, pembeli pun harus mencari alternatif atau menunggu sampai aksi ini berakhir.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar