Harga saham United Tractors (UNTR) sempat terperosok cukup dalam kemarin, anjlok sekitar 15 persen ke level Rp27.200. Tekanan datang dari kabar tak sedap soal anak perusahaannya, Agincourt Resources, yang mengelola tambang emas Martabe di Sumatera. Pencabutan izin operasional sementara itu rupanya cukup menggoyang kepercayaan investor.
Namun begitu, manajemen UNTR tak tinggal diam. Mereka langsung merespons dengan mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback. Nilainya gak main-main, mencapai Rp2 triliun.
"Jumlah nilai pembelian kembali saham adalah sebanyak-banyaknya Rp2 triliun,"
begitu bunyi keterbukaan informasi yang mereka rilis pada Kamis, 22 Januari 2026. Aksi korporasi ini, kata mereka, juga bentuk dukungan pada upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar modal.
Buyback ini akan berlangsung selama tiga bulan ke depan, dimulai hari ini dan ditargetkan berakhir pada 15 April 2025. Tentu saja, periode itu bisa berakhir lebih cepat jika dana Rp2 triliun itu sudah habis terpakai. Yang menarik, skema yang dipilih adalah buyback tanpa RUPS, yang memang sudah diatur dalam POJK 13/2023. Dan yang penting, dana yang dipakai murni dari internal perusahaan. Bukan dari utang atau hasil penawaran saham baru.
"Dalam pelaksanaannya, perseroan akan menggunakan dana internal," tegas manajemen.
Ini bukan kali pertama UNTR melakukan buyback. Sebelumnya, mereka baru saja mengakhiri program serupa yang berjalan dari akhir Oktober 2025 hingga Januari 2026. Saat itu, mereka membeli kembali sekitar 8,5 juta saham dan hampir menghabiskan anggaran Rp2 triliun yang disiapkan. Harga rata-ratanya sekitar Rp29.188 per lembar.
Karena dana yang tersisa tinggal Rp9,7 juta, mereka pun memutuskan menghentikan program buyback yang lama lebih awal, tepatnya pada 14 Januari 2025. Nah, dengan pengumuman program baru senilai Rp2 triliun ini, jelas UNTR ingin menunjukkan sinyal kuat kepada pasar. Mereka berusaha meredam kepanikan dan menunjukkan bahwa perusahaan masih punya daya tahan yang baik di tengah gejolak.
Langkah ini tentu akan disorot ketat oleh pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan. Apakah cukup untuk mengembalikan kepercayaan dan membalikkan sentimen? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Emas Anjlok ke Terendah Sebulan, Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan Iran-Timur Tengah Kembali Meningkat
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Kinerja OpenAI Tekan Saham Teknologi Jelang Rilis Laba Raksasa AS
Tiga Direksi PT Prime Agri Resources Tbk Serahkan Pengunduran Diri, Keputusan Ditentukan Lewat RUPS