Bukit Uluwatu Villa Siapkan Rights Issue Raksasa, Saham Beredar Bisa Melonjak 200%

- Selasa, 20 Januari 2026 | 15:30 WIB
Bukit Uluwatu Villa Siapkan Rights Issue Raksasa, Saham Beredar Bisa Melonjak 200%

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) punya rencana besar. Perusahaan ini bersiap menggelar rights issue atau Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) untuk kedua kalinya. Yang menarik, jumlah saham baru yang bakal dilepas bisa mencapai 50 miliar lembar. Angka itu tak main-main, lho. Bisa dibilang, ini setara dengan lebih dari 200 persen dari total saham yang beredar saat ini.

Rencana itu disampaikan langsung oleh Corporate Secretary BUVA, Rian Fachmi, lewat keterbukaan informasi ke BEI pada Selasa lalu. Tanggalnya? 20 Januari 2026.

"Perseroan berencana untuk melakukan PMHMETD II dalam jumlah sebanyak-banyaknya 50 miliar saham baru," jelas Rian.

Nilai nominalnya Rp50 per saham. Menurutnya, langkah ini diambil untuk satu tujuan utama: memperkuat modal perusahaan. Dengan struktur permodalan yang lebih kokoh, BUVA berharap bisa mendongkrak kinerjanya ke depan. Dana segar dari rights issue ini rencananya akan dipakai untuk mendanai berbagai proyek pengembangan.

Nah, kalau dirinci, rencana usahanya cukup beragam. Mulai dari membangun hotel berbintang, menyediakan akomodasi lain, hingga menggarap bisnis real estat. Mereka juga akan fokus pada penjualan tanah, pengembangan gedung untuk disewakan, sampai pengoperasian kawasan hunian untuk rumah yang bisa dipindah-pindah. Intinya, dana hasil rights issue ini akan disalurkan untuk pengembangan usaha atau membayar kewajiban perusahaan dan anak usahanya.

"Seluruh dana hasil PMHMETD II, setelah dikurangi biaya emisi tentunya, akan digunakan untuk pengembangan usaha dan/atau untuk pembayaran kewajiban," tambah Rian menegaskan.

Perusahaan juga menyiapkan skenario. Jika nantinya dana itu dipakai untuk transaksi yang tergolong material atau melibatkan kepentingan afiliasi, BUVA berjanji akan patuh pada semua aturan pasar modal yang berlaku. Mereka tak mau ada masalah di kemudian hari.

Di sisi lain, ada satu hal yang perlu diwaspadai oleh para pemegang saham lama. Kalau mereka memilih untuk tidak ikut serta dalam rights issue ini, kepemilikan sahamnya berisiko terdilusi. Berapa besarannya? Bisa mencapai 67 persen dari jumlah saham yang mereka pegang sekarang. Artinya, porsi kepemilikannya bakal menipis secara signifikan.

Karena ini keputusan besar, BUVA tentu tak bisa bergerak sendiri. Mereka harus mendapat lampu hijau dari para pemilik perusahaan terlebih dahulu. Untuk itu, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) telah dijadwalkan pada 26 Februari 2026 mendatang. Di situlah semua akan diputuskan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar