Selasa (20/1) pagi, suasana di bursa Asia terasa suram. Sentimen negatif menggerogoti pasar, didorong oleh ketegangan dagang yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Eropa. Imbasnya, mayoritas indeks di kawasan ini tercatat melemah.
Di Jepang, misalnya. Indeks Nikkei 225 merosot 0,89 persen, melanjutkan tren penurunan untuk hari keempat berturut-turut. Kekhawatiran fiskal dalam negeri jadi pemicu utama, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Indeks Topix yang lebih luas juga tak berkutik, terpangkas hampir satu persen.
Lonjakan imbal hasil obligasi itu bukan tanpa sebab. Semuanya berawal dari pengumuman Perdana Menteri Sanae Takaichi. Pada Senin kemarin, ia secara resmi menyerukan pemilihan umum cepat yang dijadwalkan 8 Februari mendatang. Dalam pengumuman itu, dia juga berjanji akan menangguhkan pajak penjualan untuk bahan makanan. Langkah politik ini rupanya langsung dibaca pasar sebagai sinyal yang memicu kekhawatiran.
“Kenaikan suku bunga kemungkinan besar menjadi beban bagi pasar saham,” ujar Maki Sawada, seorang analis strategi saham di Nomura Securities.
“Ancaman tarif Trump menekan saham-saham Eropa, dan tampaknya tren ini merembet ke pasar saham Jepang,” tambahnya.
Menurut analisis Nomura, nasib pasar saham Jepang ke depan sangat tergantung pada hasil pemilu. Pasar bisa menguat jika Partai Demokrat Liberal pimpinan Takaichi meraih kemenangan besar. Sebaliknya, akan melemah jika mereka kehilangan kekuasaan, atau cenderung datar-datar saja jika hanya mempertahankan mayoritas tipis.
Tekanan dari Eropa juga jelas terasa. Meski pasar AS kemarin libur, bursa Eropa sempat anjlok. Pemicunya adalah ancaman Presiden Donald Trump yang akan mengenakan tarif tambahan untuk delapan negara Eropa. Semua itu, katanya, sampai AS diizinkan membeli Greenland. Ancaman ini kembali membuka luka ketidakpastian perdagangan global yang belum juga sembuh.
Dampaknya merata. Shanghai Composite di China tergerus 0,31 persen. Hang Seng Hong Kong sedikit melemah 0,21 persen. Sementara ASX 200 di Australia berkurang 0,28 persen.
Namun begitu, tidak semua berwarna merah. Di Korea Selatan, indeks KOSPI justru bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,10 persen, melanjutkan reli rekor nya. STI Singapura juga naik, meski sangat tipis, hanya 0,02 persen.
Secara keseluruhan, tekanan eksternal datang dari dua arah. Ancaman perang dagang AS-Eropa adalah yang pertama. Yang kedua, lonjakan imbal hasil obligasi Jepang bertenor panjang telah memperketat kondisi keuangan regional. Kombinasi kedua faktor ini akhirnya membebani selera risiko investor dan membuat sesi perdagangan di Asia hari ini berakhir dengan nada pesimis.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga
Saham Bank Danamon Melonjak 25 Persen, Manajemen Buka Suara soal Rumor Akuisisi MUFG
IHSG Melemah Tipis, Saham COAL Melonjak 34 Persen Pimpin Top Gainers