Sabtu lalu, 17 Januari 2026, suasana di PKU Akbar Lampung terasa berbeda. Acara yang digelar PNM ini memang bertujuan memberdayakan, tapi lebih dari itu. Di sana, berkumpul ratusan perempuan pengusaha ultra mikro dengan cerita-cerita hidup yang jauh dari kata mudah. Kisah mereka, yang lahir dari perjuangan nyata, justru jadi inti acara.
Ambil contoh Sri Wahyuningsih. Nasabah PNM Mekaar ini hadir mewakili ribuan perempuan lain yang berjuang keluar dari garis kemiskinan. Empat tahun silam, keadaannya sangat memprihatinkan. Bayangkan, satu butir telur harus dibagi untuk tiga orang sekeluarga. Pilihannya seringkali menyakitkan: bayar uang sekolah anak atau beli makan hari itu. Hidup serba terbatas.
“Dulu hidup kami susah. Anak saya pernah tidak ikut ujian karena belum bisa bayar. SPP 70 ribu saja berat. Makan satu telur dibagi tiga. Kalau uangnya untuk sekolah, kami tidak makan,” kenang Sri.
Namun begitu, semangatnya tak pernah padam. Berbekal peralatan seadanya di dapur, Sri memberanikan diri memulai usaha basreng. Modal awalnya kecil. Tapi setelah merambah ke PNM Mekaar, usahanya mulai menunjukkan titik terang. Perubahan pun datang, pelan tapi pasti.
“Tapi setelah bertemu PNM, pelan-pelan semua terangkat. Anak saya bisa sekolah, sampai SMA, dan ikut membantu jualan. Saya ajarkan dia untuk berjuang,” tambahnya.
Sekarang, Sri tak lagi dihantui kegelisahan yang sama. Anaknya bisa terus bersekolah, bahkan turut membantu berjualan. Sebuah pelajaran tentang kerja keras yang diajarkan langsung dari sang ibu.
Di sisi lain, PKU Akbar Lampung sendiri tak cuma jadi tempat berkumpul. Beragam program disiapkan, dari coaching clinic untuk masak dan kerajinan tangan, sampai layanan cek kesehatan gratis. Sekitar 500 nasabah terlibat, merasakan pendampingan yang ternyata tak cuma soal mengembangkan usaha, tapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka secara menyeluruh.
Hal ini diamini oleh Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan. Dalam sambutannya, dia menyampaikan kekaguman yang mendalam.
“Saya bangga dengan ibu-ibu. Ibu adalah sosok yang hebat. Tidak hanya mengurus anak dan suami, tetapi ibu-ibu juga mampu menjadi penopang ekonomi keluarga,” ujar Putri.
Pendampingan memang jadi kata kuncinya. Dodot Patria Ary, Sekretaris Perusahaan PNM, menekankan hal itu. Bagi PNM, memberikan modal saja tidaklah cukup.
“PNM tidak hanya hadir memberikan akses permodalan, tetapi juga menemani para ibu agar terus tumbuh dan berdaya. Kami ingin mereka merasa tidak berjalan sendiri dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik,” jelas Dodot.
Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang kebersamaan. Menyaksikan para ibu yang dulu hanya bisa bertahan, kini mulai menemukan ruang untuk bernapas lega. Karena setiap langkah perjuangan, memang seharusnya tidak dilalui sendirian.
Artikel Terkait
MMIX Bidik Pendapatan Rp382 Miliar, Pacu Pertumbuhan 90% dengan Andalkan Popok Bayi
BEI Perketat Kriteria Indeks Unggulan, Saham dengan Kepemilikan Terpusat Bakal Tersingkir
IHSG Dibuka Anjlok 0,41%, Pergerakan Sektor Beragam
ESSA Hentikan Sementara Operasi Pabrik Amonia Banggai untuk Pemeliharaan 5 Minggu