Prospek PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) untuk tahun 2026 tampak cerah. Menurut riset terbaru dari Phintraco Sekuritas, laba bersih perusahaan diperkirakan bakal melonjak drastis. Angkanya? Dari sekitar Rp35 miliar di 2025, bisa meroket ke level Rp202 miliar setahun setelahnya. Lonjakan fantastis ini, tentu saja, punya alasan.
Pendapatan tahun depan, 2025, mungkin masih terlihat lesu. Proyeksinya sekitar Rp2,55 triliun, turun 25% dari realisasi 2024. Tapi jangan salah, penurunan ini sebenarnya sudah lebih ringan dibandingkan kondisi sembilan bulan pertama tahun ini. Optimisme muncul karena penjualan lahan di segmen real estat diprediksi membaik menjelang tutup tahun.
Nah, di sinilah momentumnya. Memasuki 2026, pendapatan ASRI diproyeksikan pulih ke angka Rp3,15 triliun. Itu hanya 8% lebih rendah dibanding capaian 2024. Pemulihan ini tak lepas dari kontribusi penjualan land plot yang diperkirakan tumbuh signifikan. Strateginya? Peluncuran produk baru dan percepatan jual inventori yang ada.
Menurut analis Phintraco Sekuritas, Nurwachidah, posisi ASRI saat ini cukup kuat.
“Dengan cadangan lahan yang solid, ekosistem township yang matang, serta potensi pertumbuhan penjualan dan pendapatan berulang, ASRI berada pada posisi yang menarik untuk memanfaatkan pemulihan sektor properti dalam jangka menengah,” tulisnya dalam laporan, Rabu (14/1/2026).
Soal cadangan lahan, ASRI memang punya modal besar. Hingga September 2025, landbank mereka mencapai 1.936,5 hektare. Luas sekali. Dengan aset sebanyak itu, perusahaan punya bahan baku untuk pengembangan proyek selama 15 sampai 20 tahun ke depan. Lokasinya pun strategis, tersebar di kawasan terintegrasi di koridor Jakarta-Tangerang. Dekat dengan tol utama, pusat bisnis, dan bandara Soetta. Lokasi bagus seperti ini tentu meningkatkan nilai jual dan mempermudah monetisasi proyek.
Di sisi penjualan, hingga kuartal ketiga 2025, marketing sales ASRI tercatat Rp2,1 triliun. Itu baru memenuhi 40% dari target tahunan sebesar Rp3,5 triliun. Kontribusi terbesarnya datang dari penjualan rumah tapak dan land plot, yang menyumbang Rp1,3 triliun. Proyek-proyek andalan seperti Sutera Rasuna, The Gramercy, dan Sutera Nexen jadi penopang utamanya.
Untuk mengejar ketertinggalan, ASRI tak tinggal diam. Mereka terus mendorong penjualan inventori sambil meluncurkan produk baru bertajuk DOMAIN. Sebanyak 10 unit ditawarkan, dengan mengusung lokasi strategis dan aksesibilitas tinggi. Targetnya jelas: menarik minat konsumen dan investor sekaligus.
Yang menarik, bisnis ASRI bukan cuma jual tanah dan bangunan. Mereka membangun ekosistem. Dua township utama, Alam Sutera dan Suvarna Sutera, adalah tulang punggungnya. Di dalam kawasan itu, terus dikembangkan supercluster dan cluster baru untuk memperkuat ekosistem sekaligus mendongkrak penjualan.
Pendapatan berulang juga datang dari mana-mana. Mall @Alam Sutera, gedung perkantoran, rumah sakit, hotel, dan area komersial lain turut menyumbang. Bahkan, jauh di Bali, ASRI mengelola destinasi wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang mampu menarik lebih dari satu juta pengunjung tiap tahun. Jadi, ada aliran pendapatan stabil dari sektor pariwisata juga.
Melihat seluruh proyeksi ini, Phintraco Sekuritas akhirnya memberi rekomendasi Buy untuk saham ASRI. Estimasi nilai wajarnya ditetapkan di Rp268 per saham. Angka itu mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 41% dari harga saat ini. Valuasi ini didasarkan pada metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan beberapa asumsi teknis.
Jadi, meski 2025 mungkin masih berat, jalan menuju 2026 tampak mulai terbentang. Semuanya tergantung eksekusi.
Artikel Terkait
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual
IMF Peringatkan Utang AS Capai 125% PDB, Butuh Penyesuaian Fiskal Terbesar
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia