Rupiah kembali terpuruk. Tekanan terhadap mata uang kita itu masih berlanjut di awal tahun 2026. Bank Indonesia mencatat, pada Selasa (13/1) kemarin, rupiah ditutup di level 16.860 per dolar AS. Angka itu menunjukkan pelemahan cukup dalam, yakni 1,04 persen sejak awal tahun.
Namun begitu, ada sedikit napas lega di pagi hari Rabu (14/1). Data Bloomberg menunjukkan, sekitar pukul 11.15 WIB, rupiah sedikit menguat 14 poin ke posisi Rp 16.863. Penguatan tipis, memang, tapi setidaknya memberi jeda dari tren merah yang mendominasi.
Menurut Erwin G Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, tekanan global awal tahun ini memang luar biasa kuat. Dia menyebutkan sejumlah pemicunya.
"Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi," tegas Erwin dalam keterangan tertulisnya, Rabu itu.
Dia menjelaskan, gejolak geopolitik yang makin panas, ditambah kekhawatiran pasar soal independensi bank sentral di negara maju, jadi faktor utama. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed AS juga bikin semua kalang kabut. Di tengah semua itu, kebutuhan valas dalam negeri justru meningkat. Kombinasi yang sulit.
Erwin berusaha menenangkan. Pelemahan rupiah, katanya, masih sejalan dengan nasib mata uang kawasan lain. Won Korea, contohnya, anjlok 2,46 persen. Peso Filipina juga melemah 1,04 persen. Jadi, kita tidak sendirian.
Lalu, apa yang dilakukan BI? Otoritas moneter ini klaim stabilitas rupiah tetap terjaga berkat langkah-langkah stabilisasi yang mereka gelontorkan. Intervensi dilakukan di berbagai lini, mulai dari pasar off-shore di Asia, Eropa, hingga Amerika. Di dalam negeri, BI juga aktif di pasar spot dan melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Aliran modal asing yang masuk ke instrumen seperti SRBI dan pasar saham, dengan nilai neto Rp 11,11 triliun di Januari, juga disebut jadi penopang.
Yang penting, ketahanan eksternal Indonesia dinilai masih solid. Coba lihat cadangan devisa kita per Desember 2025: USD 156,5 miliar. Jumlah itu setara untuk membiayai impor selama 6,4 bulan. Angka yang cukup nyaman sebagai tameng menghadapi gejolak global.
"Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat," ungkap Erwin menegaskan komitmennya.
Di sisi lain, pengamat punya pandangan yang agak berbeda. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, melihat tekanan pada rupiah datang dari dua arah sekaligus: luar dan dalam negeri.
"Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan internal," kata Ibrahim.
Dari luar, semua orang bisa lihat: tensi geopolitik global makin runyam. Konflik Timur Tengah belum reda, dinamika politik AS makin panas, belum lagi serangan Ukraina ke fasilitas minyak Rusia. Situasi seperti ini bikin investor panik dan kabur dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Dari dalam? Ibrahim menyoroti persoalan koordinasi kebijakan. Menurut penilaiannya, belum ada sinkronisasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter. Persepsi pasar melihat intervensi BI kurang agresif, sehingga menimbulkan keraguan. Tekanan fiskal dan arah kebijakan pertumbuhan tahun 2026 juga menambah daftar kekhawatiran investor.
Ke depan, Ibrahim memperkirakan jalan masih terjal. Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi terjebak di kisaran Rp 16.800-Rp 16.850 per dolar AS. Proyeksinya suram: jika tidak ada perbaikan signifikan, bukan mustahil nilai tukar akan mengarah ke Rp 17.500 di akhir tahun. Solusinya, menurut dia, jelas: koordinasi kebijakan harus diperkuat, dan intervensi harus konsisten serta kredibel di mata pasar. Tanpa itu, sulit berharap rupiah bisa bangkit dengan cepat.
Artikel Terkait
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp326,3 Miliar, Naik 62,8% dari Tahun Lalu
IHSG Naik Tipis, Saham NIRO dan DEFI Melonjak di Atas 34%