Rupiah Tersungkur ke Rp 16.860, BI Klaim Stabilitas Masih Terjaga

- Rabu, 14 Januari 2026 | 11:42 WIB
Rupiah Tersungkur ke Rp 16.860, BI Klaim Stabilitas Masih Terjaga

Yang penting, ketahanan eksternal Indonesia dinilai masih solid. Coba lihat cadangan devisa kita per Desember 2025: USD 156,5 miliar. Jumlah itu setara untuk membiayai impor selama 6,4 bulan. Angka yang cukup nyaman sebagai tameng menghadapi gejolak global.

"Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat," ungkap Erwin menegaskan komitmennya.

Di sisi lain, pengamat punya pandangan yang agak berbeda. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, melihat tekanan pada rupiah datang dari dua arah sekaligus: luar dan dalam negeri.

"Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan internal," kata Ibrahim.

Dari luar, semua orang bisa lihat: tensi geopolitik global makin runyam. Konflik Timur Tengah belum reda, dinamika politik AS makin panas, belum lagi serangan Ukraina ke fasilitas minyak Rusia. Situasi seperti ini bikin investor panik dan kabur dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Dari dalam? Ibrahim menyoroti persoalan koordinasi kebijakan. Menurut penilaiannya, belum ada sinkronisasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter. Persepsi pasar melihat intervensi BI kurang agresif, sehingga menimbulkan keraguan. Tekanan fiskal dan arah kebijakan pertumbuhan tahun 2026 juga menambah daftar kekhawatiran investor.

Ke depan, Ibrahim memperkirakan jalan masih terjal. Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi terjebak di kisaran Rp 16.800-Rp 16.850 per dolar AS. Proyeksinya suram: jika tidak ada perbaikan signifikan, bukan mustahil nilai tukar akan mengarah ke Rp 17.500 di akhir tahun. Solusinya, menurut dia, jelas: koordinasi kebijakan harus diperkuat, dan intervensi harus konsisten serta kredibel di mata pasar. Tanpa itu, sulit berharap rupiah bisa bangkit dengan cepat.


Halaman:

Komentar