Setelah sempat melesat ke rekor tertinggi, harga emas dunia akhirnya sedikit ambil napas. Koreksi terjadi pada perdagangan Selasa (13/1/2026), di tengah pasar yang masih mencerna data inflasi Amerika Serikat terbaru. Data itu, rupanya, justru memperkuat spekulasi bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga tahun ini.
Meski turun tipis, sentimen pasar terhadap logam kuning ini sebenarnya masih positif. David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, melihat data inflasi AS yang lebih "jinak" sebagai pemicunya.
"Nada pasar secara keseluruhan agak positif karena data CPI yang relatif lunak. Ini memberi isyarat peluang lebih besar bagi penurunan suku bunga The Fed nanti," ujarnya.
Angkanya? Indeks Harga Konsumen inti AS naik 0,2% bulanan dan 2,6% tahunan di Desember. Keduanya sedikit lebih rendah dari perkiraan para analis. Tak heran, Donald Trump langsung menyerukan lagi agar suku bunga diturunkan secara "signifikan".
Namun begitu, ketegangan geopolitik dan tanda tanya soal ekonomi global belum berakhir. Faktor-faktor inilah yang terus jadi penyangga, membuat emas tetap diminati sebagai pelindung nilai.
Isu independensi The Fed, misalnya, jadi perhatian serius. Pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell langkah yang dikritik habis-habisan oleh mantan pimpinan bank sentral dan koleganya di seluruh dunia. Belum lagi ancaman tarif 25% untuk negara yang berdagang dengan Iran, yang berpotensi memicu ketegangan baru dengan China. Di front lain, Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke beberapa kota Ukraina semalam.
Artikel Terkait
Emas Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram, Rekor Baru Terus Tercipta
Analis BNI Sekuritas Soroti Enam Saham Pilihan Usai Aksi Borong Asing
IHSG Melaju ke 9.012, Rupiah Justru Tergelincir Tipis
Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak