Emas Ambil Napas Sejenak, Sentimen Hawkish The Fed dan Gejolak Global Jadi Penopang

- Rabu, 14 Januari 2026 | 08:00 WIB
Emas Ambil Napas Sejenak, Sentimen Hawkish The Fed dan Gejolak Global Jadi Penopang

Setelah sempat melesat ke rekor tertinggi, harga emas dunia akhirnya sedikit ambil napas. Koreksi terjadi pada perdagangan Selasa (13/1/2026), di tengah pasar yang masih mencerna data inflasi Amerika Serikat terbaru. Data itu, rupanya, justru memperkuat spekulasi bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga tahun ini.

Meski turun tipis, sentimen pasar terhadap logam kuning ini sebenarnya masih positif. David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, melihat data inflasi AS yang lebih "jinak" sebagai pemicunya.

"Nada pasar secara keseluruhan agak positif karena data CPI yang relatif lunak. Ini memberi isyarat peluang lebih besar bagi penurunan suku bunga The Fed nanti," ujarnya.

Angkanya? Indeks Harga Konsumen inti AS naik 0,2% bulanan dan 2,6% tahunan di Desember. Keduanya sedikit lebih rendah dari perkiraan para analis. Tak heran, Donald Trump langsung menyerukan lagi agar suku bunga diturunkan secara "signifikan".

Namun begitu, ketegangan geopolitik dan tanda tanya soal ekonomi global belum berakhir. Faktor-faktor inilah yang terus jadi penyangga, membuat emas tetap diminati sebagai pelindung nilai.

Isu independensi The Fed, misalnya, jadi perhatian serius. Pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell langkah yang dikritik habis-habisan oleh mantan pimpinan bank sentral dan koleganya di seluruh dunia. Belum lagi ancaman tarif 25% untuk negara yang berdagang dengan Iran, yang berpotensi memicu ketegangan baru dengan China. Di front lain, Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke beberapa kota Ukraina semalam.

"Faktor fundamental seperti itulah yang menopang daya tarik emas sebagai aset safe-haven," tambah Meger.

Secara teknis, emas spot turun 0,25% ke level USD 4.586,00 per troy ons. Padahal sebelumnya sempat sentuh rekor intraday di USD 4.634,33. Suku bunga rendah memang biasanya menguntungkan emas, aset yang tak memberi imbal hasil. Meski The Fed diperkirakan tetap bertahan di pertemuan akhir Januari, pasar sudah mengantisipasi dua kali pemotongan suku bunga sepanjang 2026.

Prospek ke depan? Commerzbank cukup optimis, mereka menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 jadi USD 4.900 per ons. Menyikapi volatilitas yang ada, CME Group juga akan menyesuaikan aturan margin untuk logam mulia.

Perak tak mau kalah. Logam ini malah meroket 2,1% ke USD 86,74 per ons, setelah sebelumnya mencatat rekor sepanjang masa di USD 89,10.

Hugo Pascal, trader logam mulia di InProved, memberi peringatan. "Indikator teknikal sih sinyalnya koreksi, tapi para pedagang masih aja milih opsi bullish untuk perak. Investor harus siap-siap dengan pergerakan balik yang tajam di tengah volatilitas tinggi ini, meski bias naik secara umum masih kuat," katanya.

Sementara itu, platinum stagnan di USD 2.343,35. Palladium justru naik 1,4% ke USD 1.868,68 per ons. Pasar logam mulia jelas masih penuh dinamika, digerakkan oleh campuran data ekonomi, politik, dan sentimen trader yang kadang sulit ditebak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar