Ia melihat sebuah pola yang mengkhawatirkan. Setelah konflik Rusia-Ukraina dan agresi Israel di Gaza, ketegangan di Venezuela ini seolah membuka kemungkinan ulangan peristiwa serupa di kawasan lain, termasuk Asia. Itu sebabnya kewaspadaan ekstra sangat diperlukan.
“Dan ini kami tentu meminta semua lembaga jasa keuangan untuk mencermati dan melakukan pemantauan yang intensif ya terhadap risiko-risiko ini, baik risiko pasarnya, risiko likuiditas, dan risiko kredit pembiayaan,”
tegasnya.
Latar belakang kekhawatiran ini makin kuat ketika melihat proyeksi ekonomi global. Sejumlah lembaga multilateral memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 bakal di bawah 3 persen angka terendah sejak masa pandemi. Situasi geopolitik yang memanas jelas bisa memperburuk keadaan.
Jadi, apa simpulannya?
“Jadi singkatnya dalam jangka pendek belum terlihat dan terasa secara langsung. Dalam jangka menengah panjang harus kita waspadai terus,”
pungkas Mahendra. Intinya, waspada, pantau terus, meski untuk saat ini dampak langsungnya belum kelihatan.
Artikel Terkait
Pizza Hut Indonesia Dirikan Anak Usaha Baru untuk Bisnis Roti dan Akomodasi
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional