Setelah dua hari bertelur-turut melemah, harga minyak dunia akhirnya bangkit. Pada perdagangan Kamis (8/1) lalu, harganya melonjak lebih dari 3 persen, ditutup di level tertinggi dalam dua pekan. Investor tampaknya kembali menegakkan kepala, mencermati gejolak di Venezuela plus kekhawatiran pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran.
Kontrak berjangka Brent, misalnya, naik USD 2,03 ke posisi USD 61,99 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD 1,77 menjadi USD 57,76 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi untuk Brent sejak akhir Desember lalu.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Rupanya ada sejumlah perkembangan di Venezuela yang menarik perhatian. Menurut dua sumber Reuters, beberapa kedutaan asing di sana sedang menyiapkan kunjungan pekan depan. Rencananya, kunjungan itu akan melibatkan perwakilan perusahaan minyak dari AS dan Eropa. Agenda ini muncul setelah Washington mengumumkan kesepakatan minyak senilai USD 2 miliar untuk negara itu.
AS juga semakin getol. Mereka menyita dua kapal tanker minyak terkait Venezuela di Samudra Atlantik pada Rabu (7/1), salah satunya berbendera Rusia. Langkah ini bagian dari upaya agresif pemerintahan Trump untuk mengendalikan arus minyak di Amerika dan mendesak pemerintah sosialis Venezuela bersekutu.
“Pasar kembali menguat, dengan harga acuan minyak mentah kembali ke kisaran penutupan Jumat lalu sebelum AS menyingkirkan Maduro,” kata analis dari Ritterbusch and Associates.
“Fakta bahwa perkembangan besar ini hanya berdampak kecil terhadap pasar energi tidaklah mengejutkan, karena masuknya volume signifikan minyak mentah Venezuela ke wilayah Pantai Teluk AS bisa memakan waktu bertahun-tahun,” lanjut mereka.
Namun begitu, di Senat AS sendiri ada tarik ulur. Mereka meloloskan pemungutan suara untuk melarang Presiden Trump mengambil tindakan militer lanjutan terhadap Venezuela tanpa persetujuan Kongres. Tapi Trump bersikukuh, pengawasan AS terhadap negara itu bisa berlangsung bertahun-tahun.
Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright bicara soal peran China. Ia bilang masih ada ruang untuk menyeimbangkan peran AS dan China di Venezuela agar perdagangan tetap berjalan. Tapi Washington jelas tak akan membiarkan Beijing punya kendali besar di sana.
Dalam wawancara dengan Fox Business Network, Wright juga menyebut ia perkirakan Chevron akan cepat memperluas aktivitas di Venezuela. Perusahaan minyak besar AS lain seperti ConocoPhillips dan Exxon Mobil juga disebutnya berupaya memainkan peran yang konstruktif.
Kabarnya, pemerintahan Trump bahkan mengundang pimpinan perusahaan perdagangan komoditas Vitol dan Trafigura ke Gedung Putih pada Jumat (9/1) untuk membahas pemasaran minyak Venezuela. Demikian menurut empat sumber yang mengetahui hal tersebut.
Sementara itu, dari India, Reliance Industries operator kompleks kilang terbesar dunia mengatakan akan pertimbangkan beli minyak Venezuela jika diizinkan dijual ke pembeli non-AS. Saat ini, produksi Venezuela hanya sekitar 1 persen dari pasokan minyak dunia.
Geopolitik memang lagi panas. Sebuah kapal tanker tujuan Rusia dilaporkan kena serangan drone di Laut Hitam, sampai-sampai minta bantuan Penjaga Pantai Turki dan alihkan rute. Informasi ini datang dari Lloyd’s List Intelligence dan sumber keamanan maritim terpisah.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga angkat bicara. Ia menyatakan teks jaminan keamanan bilateral antara Kyiv dan Washington “pada dasarnya sudah siap” untuk difinalisasi bersama Trump.
Belum selesai. Senator Republik AS Lindsey Graham menyatakan Trump akan mengizinkan rancangan undang-undang sanksi bipartisan yang menargetkan negara-negara yang berbisnis dengan Rusia untuk diproses di Kongres. Rusia sendiri adalah produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah AS.
Di Irak, kabinet mereka setujui rencana menasionalisasi operasi di ladang minyak West Qurna 2 salah satu yang terbesar di dunia. Pemerintah berupaya mencegah gangguan akibat sanksi AS terhadap pemegang saham Rusia, Lukoil.
Lalu ada Iran. Presidennya, Masoud Pezeshkian, memperingatkan pemasok dalam negeri agar tidak menimbun atau menaikkan harga barang secara berlebihan. Peringatan ini muncul di tengah reformasi subsidi berisiko tinggi dan gelombang protes akibat kesulitan ekonomi.
“Iran memiliki sejarah panjang protes, dan tidak ada tanda-tanda bahwa rezim berada di ambang kejatuhan. Namun, tergantung bagaimana situasi berkembang, ekspor minyak Iran, yang setara dengan 2 persen pasokan global bisa terancam,” kata Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymon James.
Kondisinya makin tegang. Kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan pemadaman internet nasional di Iran pada Kamis (8/1) itu, saat protes ekonomi masih berlangsung. Irak dan Iran adalah dua produsen minyak terbesar di OPEC setelah Arab Saudi. Jadi, setiap gejolak di sana pasti bikin pasar minyak dunia ikut deg-degan.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja