Harga Minyak Melonjak 3% Usai Gejolak Venezuela dan Ancaman Pasokan Global

- Jumat, 09 Januari 2026 | 08:06 WIB
Harga Minyak Melonjak 3% Usai Gejolak Venezuela dan Ancaman Pasokan Global

Setelah dua hari bertelur-turut melemah, harga minyak dunia akhirnya bangkit. Pada perdagangan Kamis (8/1) lalu, harganya melonjak lebih dari 3 persen, ditutup di level tertinggi dalam dua pekan. Investor tampaknya kembali menegakkan kepala, mencermati gejolak di Venezuela plus kekhawatiran pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran.

Kontrak berjangka Brent, misalnya, naik USD 2,03 ke posisi USD 61,99 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD 1,77 menjadi USD 57,76 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi untuk Brent sejak akhir Desember lalu.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Rupanya ada sejumlah perkembangan di Venezuela yang menarik perhatian. Menurut dua sumber Reuters, beberapa kedutaan asing di sana sedang menyiapkan kunjungan pekan depan. Rencananya, kunjungan itu akan melibatkan perwakilan perusahaan minyak dari AS dan Eropa. Agenda ini muncul setelah Washington mengumumkan kesepakatan minyak senilai USD 2 miliar untuk negara itu.

AS juga semakin getol. Mereka menyita dua kapal tanker minyak terkait Venezuela di Samudra Atlantik pada Rabu (7/1), salah satunya berbendera Rusia. Langkah ini bagian dari upaya agresif pemerintahan Trump untuk mengendalikan arus minyak di Amerika dan mendesak pemerintah sosialis Venezuela bersekutu.

“Pasar kembali menguat, dengan harga acuan minyak mentah kembali ke kisaran penutupan Jumat lalu sebelum AS menyingkirkan Maduro,” kata analis dari Ritterbusch and Associates.

“Fakta bahwa perkembangan besar ini hanya berdampak kecil terhadap pasar energi tidaklah mengejutkan, karena masuknya volume signifikan minyak mentah Venezuela ke wilayah Pantai Teluk AS bisa memakan waktu bertahun-tahun,” lanjut mereka.

Namun begitu, di Senat AS sendiri ada tarik ulur. Mereka meloloskan pemungutan suara untuk melarang Presiden Trump mengambil tindakan militer lanjutan terhadap Venezuela tanpa persetujuan Kongres. Tapi Trump bersikukuh, pengawasan AS terhadap negara itu bisa berlangsung bertahun-tahun.

Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright bicara soal peran China. Ia bilang masih ada ruang untuk menyeimbangkan peran AS dan China di Venezuela agar perdagangan tetap berjalan. Tapi Washington jelas tak akan membiarkan Beijing punya kendali besar di sana.

Dalam wawancara dengan Fox Business Network, Wright juga menyebut ia perkirakan Chevron akan cepat memperluas aktivitas di Venezuela. Perusahaan minyak besar AS lain seperti ConocoPhillips dan Exxon Mobil juga disebutnya berupaya memainkan peran yang konstruktif.


Halaman:

Komentar