Isu itu memang lagi seru-serunya. Rabu ini, pemerintah Jepang secara resmi menyebut langkah China melarang ekspor barang dual-use (yang bisa untuk kepentingan militer) sebagai sesuatu yang 'sama sekali tidak dapat diterima'. Ketegangan antara dua raksasa ekonomi Asia ini makin memanas, apalagi dengan ancaman pembatasan ekspor rare earth yang vital bagi industri.
Selain mengawasi ketegangan China-Jepang, mata investor juga tertuju ke data dari seberang lautan. Laporan ketenagakerjaan AS yang akan rilis Jumat nanti dinilai krusial. Data itu bisa jadi petunjuk berharga soal langkah Federal Reserve ke depan terkait suku bunga.
Goldman Sachs memproyeksikan angka yang optimis: penambahan nonfarm payrolls (NFP) Desember sekitar 70.000, lebih tinggi dari perkiraan pasar umum. Mereka juga memperkirakan tingkat pengangguran turun sedikit ke 4,5 persen.
Data terbaru yang sudah keluar semalam sendiri memberikan gambaran campur aduk. Pasar tenaga kerja AS seolah berada dalam fase stagnan, tidak banyak yang merekrut tapi juga tidak banyak yang memecat. Sebuah laporan dari Wells Fargo mencoba menganalisis kondisi ini.
"Laporan JOLTS November menunjukkan perputaran tenaga kerja masih lemah. Lingkungan dengan tingkat churn rendah ini menopang keseimbangan rapuh antara permintaan dan pasokan tenaga kerja," tulis para ekonom Wells Fargo.
Mereka menambahkan, dengan sikap perusahaan yang masih sangat berhati-hati, pertumbuhan lapangan kerja diprediksi akan tetap terbatas dalam waktu dekat.
Sementara itu, di pasar berjangka, sinyalnya juga tidak satu warna. Nasdaq futures melemah sedikit, sementara S&P 500 futures naik tipis. Kontrak berjangka Eropa malah terlihat lebih lemah. Semuanya seperti menunggu sesuatu, entah data dari AS atau perkembangan diplomasi di Asia.
Artikel Terkait
Wall Street Beringsut di Tengah Data Tenaga Kerja dan Ketegangan Mahkamah Agung
Ultra Voucher Genjot Ekspansi, Targetkan Integrasi dengan Seluruh EDC BCA pada 2026
Empat Emiten Lepas Status Papan Khusus, Perdagangan Kembali Normal Pekan Depan
Menteri Keuangan Bahas Insentif untuk Merger Tiga Anak Usaha Pertamina